Selasa, 18/08/2026 11:40 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), diguncang gempa bumi tektonik kuat dengan magnitudo pemutakhiran M7,7 pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB.
Gempa dangkal dengan kedalaman 15 km ini berpusat di laut pada jarak 30 km arah timur laut Nagekeo dan dipicu oleh aktivitas sesar naik (thrust fault) pada struktur Flores Back-Arc Thrust.
Dampak Korban dan Kerusakan Bencana ini mengakibatkan dampak yang cukup berat bagi masyarakat di pesisir utara Flores.
Hingga Selasa (18/8), data sementara mencatat sebanyak 53 orang meninggal dunia dan 137 lainnya mengalami luka-luka. Kerusakan bangunan dengan tingkat ringan hingga berat dilaporkan terjadi di wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka.
Pimpinan DPR RI Serukan Koordinasi Percepatan Tangani Gempa NTT
KM Tidar Angkut 200 Koli Bantuan untuk Korban Gempa NTT
Sejumlah Menteri Pimpin Upacara HUT ke-81 RI di Wilayah Terdampak Gempa NTT
Beberapa fasilitas umum yang terdampak serius antara lain Pelabuhan Maumere, Hotel Jayakarta Bajo, serta sejumlah tembok rumah warga di wilayah Maumere dan sekitarnya.
Peringatan Dini dan Kejadian Tsunami Sesaat setelah gempa terjadi, BMKG sempat mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami dengan status ancaman Siaga dan Waspada untuk wilayah NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Tsunami terdeteksi di 16 lokasi di empat provinsi tersebut, dengan ketinggian tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur mencapai 1,605 meter pada pukul 05.03 WIB.
Lokasi lain seperti Maurole (Ende) mencatat tsunami setinggi 0,94 meter, sementara di Bulukumba tercatat 0,54 meter. Peringatan dini tsunami secara resmi dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB.
Ribuan Gempa Susulan Terus Berlanjut Aktivitas kegempaan di wilayah busur belakang Flores terpantau masih sangat tinggi. Hingga 17 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB.
BMKG telah mencatat sebanyak 1.624 gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo berkisar antara M1,3 hingga M6,2. Dari ribuan gempa tersebut, terdapat 23 kejadian dengan magnitudo lebih dari M5,0 dan 59 gempa dirasakan oleh masyarakat di daratan.
Guncangan gempa utama sendiri dilaporkan dirasakan paling kuat di Wolowae (Nagekeo) dan Bajawa dengan skala intensitas VI MMI (mengejutkan semua penduduk hingga berlari keluar rumah).
Langkah Penanganan dan Mitigasi BMKG telah menerjunkan tim gabungan untuk melakukan survei kerusakan menyeluruh, pengukuran karakteristik tanah (mikrozonasi), serta verifikasi dampak tsunami di lapangan sebagai dasar rekomendasi rekonstruksi yang lebih aman.
Selain itu, pemerintah pusat melalui BNPB berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk mempercepat proses pemulihan bencana.
Himbauan kepada Masyarakat Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap potensi gempa susulan yang masih mungkin terjadi.
Warga diminta untuk memeriksa kondisi bangunan tempat tinggal dan menghindari bangunan yang mengalami keretakan struktur.
Untuk mendapatkan informasi yang akurat, masyarakat diharapkan hanya merujuk pada saluran resmi BMKG melalui aplikasi InfoBMKG, situs resmi www.bmkg.go.id, atau akun media sosial terverifikasi @infoBMKG.