Jum'at, 14/08/2026 19:10 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Amerika Serikat (AS) dinilai berada dalam posisi terdesak dan mengalami kekalahan secara kalkulasi strategis dalam eskalasi konflik militer di Timur Tengah melawan Iran.
Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat Timur Tengah, Prof. Dr. Kholid Al Walid, saat diwawancarai via telepon pada Jumat (14/8) mengatakan, Negeri Paman Sam tidak lagi memiliki capaian progresif dalam konfrontasi ini.
"Bahkan kalau kita berhitung, Amerika sudah berada dalam keadaan kalah. Kenapa? Karena satu, tidak ada tujuan yang bisa dia capai. Yang kedua bahwa kerugian keuangannya begitu luar biasa," kata Kholid.
Kholid menjelaskan, militer AS saat ini berada dalam kondisi kelelahan akibat menyusutnya pasokan persenjataan utama. Stok amunisi pertahanan udara, seperti rudal Patriot yang diandalkan AS, dilaporkan sudah hampir habis.
Dipengaruhi Lingkaran Pro-Zionis, Trump Dinilai Nekat Serang Iran
Iran Tegaskan Belum Putuskan Lanjutkan Perundingan dengan AS
WNI Tewas Diserang Houthi, Iman Sukri Desak Terbitkan Travel Warning
Selain itu, gelombang penolakan publik domestik AS terhadap perang terus membengkak hingga Senat mendesak penghentian operasi militer.
Dampak perang tersebut juga memukul langsung ekonomi domestik AS. Harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar domestik Amerika melonjak drastis dari sebelumnya 2 dolar AS per galon menjadi mendekati 5 dolar AS per galon.
Lebih lanjut, lonjakan ini memicu efek domino berupa melambungnya harga barang-barang komoditas.
Melihat situasi terdesak ini, Kholid memetakan dua kemungkinan skenario yang bakal diambil Presiden AS Donald Trump:
Pertama, tertekan oleh kegagalan opsi-opsi sebelumnya, AS nekat melancarkan opsi terakhir berupa serangan darat langsung ke wilayah Iran.
Kedua, AS menarik mundur blokadenya terhadap Selat Hormuz. Namun, langkah penarikan diri dinilai masih jauh mengingat AS baru saja mengerahkan kapal induk pengganti dari Singapura ke Selat Hormuz, sementara Iran menyatakan siap melayani perang jangka panjang.
"Apakah Trump ini akan dengan keadaan ini merasa tertekan dan menjadi gila untuk kemudian melakukan serangan darat ke Iran, karena segala bentuk yang ada selama ini gagal, atau Amerika akan menarik mundur dari blokade dia terhadap Selat Hormuz, walaupun ini sepertinya masih akan jauh ya, karena dia sudah menarik satu kapal induk yang lain dari Singapura untuk menggantikan kapal induk yang selama ini bertugas," ujar Kholid.
Eskalasi perang berkepanjangan ini tak hanya memperkeruh stabilitas geopolitik global, tetapi juga mengancam perekonomian Indonesia melalui potensi krisis energi, melambungnya harga bahan pokok, hingga ancaman inflasi tinggi.