Jum'at, 14/08/2026 15:30 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Judi di kalangan mahasiswa ternyata dapat berjalan beriringan dengan berbagai tekanan lain, mulai dari masalah kesehatan mental, penggunaan alkohol atau zat, tekanan keuangan hingga persoalan akademik.
Temuan ini terlihat dalam survei terhadap 1.831 mahasiswa dari delapan universitas negeri di Mississippi, Amerika Serikat.
Survei tersebut menemukan 24,17 persen mahasiswa mengaku berjudi dalam satu tahun terakhir. Sementara itu, 6,89 persen menunjukkan setidaknya satu tanda dampak negatif terkait perjudian, dengan tingkat risiko yang lebih tinggi terlihat bersama persoalan suasana hati, kecemasan dan penggunaan zat.
Dikutip dari Earth, penelitian ini tidak membuktikan bahwa perjudian menyebabkan gangguan kesehatan mental. Para peneliti justru melihat perjudian sebagai bagian dari kelompok persoalan yang saling beririsan di kalangan mahasiswa.
Peneliti Kaitkan Suhu Panas dengan Lonjakan Masalah Kesehatan Mental Anak
MKD Diingatkan, Keadilan Tak Boleh Dikorbankan Hanya Karena Tekanan Publik
Survei dikirim kepada 16.031 mahasiswa pada musim gugur 2021 dan mendapat respons dari 11,4 persen di antaranya. Hasil kemudian disesuaikan agar lebih mendekati karakteristik populasi mahasiswa di seluruh sistem universitas tersebut.
Jenis perjudian yang paling banyak dilakukan adalah tiket gosok, disusul mesin slot dan tiket lotere.
Hampir tiga perempat mahasiswa yang berjudi melakukannya tidak lebih dari dua atau tiga kali dalam setahun. Sebanyak 56,78 persen juga melaporkan menghabiskan uang US$50 atau kurang untuk berjudi.
Angka 6,89 persen dalam penelitian tersebut mencakup mahasiswa yang menunjukkan setidaknya satu tanda risiko, bukan hanya mereka yang mengalami masalah perjudian berat.
Sekitar 5,68 persen masuk kategori risiko terendah, 0,75 persen berada dalam kategori risiko sedang, sedangkan 0,47 persen masuk kategori tertinggi yang disebut problem gambling.
Peneliti menemukan hubungan antara risiko perjudian dengan persoalan suasana hati, kecemasan dan penggunaan zat. Hubungan tersebut tergolong lemah, tetapi tetap terlihat dalam sampel penelitian yang cukup besar.
Nicholas McAfee, penulis utama dari University of Mississippi, mengatakan hampir seluruh mahasiswa dalam sampel menunjukkan tingkat kekhawatiran tertentu terkait kesehatan mental.
Menurutnya, mahasiswa yang cenderung berjudi lebih banyak juga lebih mungkin mengalami persoalan yang lebih besar, meskipun kelompok mahasiswa yang diteliti secara umum sudah menghadapi banyak tekanan.
Namun, hubungan tersebut tidak menunjukkan arah sebab-akibat. Penelitian belum dapat menjawab apakah perjudian memicu persoalan kesehatan mental atau kondisi mental tertentu membuat seseorang lebih rentan mengalami masalah perjudian.
Rory Pfund, associate professor of psychiatry di University of Tennessee Health Science Center, mengatakan pertanyaan mengenai hubungan sebab-akibat tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut.
Persoalan akademik menjadi bagian lain yang muncul dalam penelitian.
Sebanyak 45,61 persen mahasiswa mengaku pernah mempertimbangkan mengurangi beban kuliah, yang biasanya dilakukan dengan mengambil lebih sedikit mata kuliah.
Pada awal analisis, risiko perjudian terlihat berkaitan dengan status kuliah paruh waktu atau tidak mengambil mata kuliah. Namun, hubungan tersebut menghilang setelah faktor suasana hati, kecemasan dan penggunaan zat diperhitungkan.
Pola serupa muncul pada mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan. Temuan tersebut memperkuat kemungkinan bahwa masalah perjudian berada dalam kumpulan tekanan yang lebih luas, bukan berdiri sendiri.
Data penelitian dikumpulkan pada 2021, ketika pandemi membatasi aktivitas di kasino dan menyebabkan sejumlah acara olahraga dibatalkan. Mississippi juga saat itu memiliki pembatasan terhadap perjudian online.
Kondisi tersebut dinilai dapat ikut menjelaskan mengapa tingkat perjudian dalam penelitian lebih rendah dibandingkan sejumlah penelitian sebelumnya terhadap mahasiswa.
Meski kondisi telah berubah, McAfee menilai akses terhadap perjudian dan kebutuhan akan layanan berbasis bukti masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan, bukan hanya di Mississippi tetapi juga di Amerika Serikat secara lebih luas.
Pfund juga menyoroti keterbatasan pendanaan khusus untuk penanganan masalah perjudian di Mississippi. Menurutnya, diperlukan mekanisme pendanaan untuk layanan penanganan masalah perjudian, baik bagi mahasiswa maupun masyarakat di luar kampus.
Peneliti melihat perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk mengenali masalah perjudian lebih awal.
Beberapa pendekatan yang disebut dalam penelitian antara lain skrining rutin di kampus, percakapan singkat, pemberian umpan balik yang disesuaikan dengan kondisi mahasiswa, serta rujukan layanan yang menangani perjudian bersama persoalan kesehatan mental dan penggunaan zat.
Namun, penelitian ini tidak menguji efektivitas layanan tersebut, sehingga pendekatan tersebut masih dipandang sebagai kemungkinan respons, bukan solusi yang telah terbukti melalui penelitian ini.
Perjudian dan konsumsi alkohol juga dapat muncul dalam lingkungan sosial yang sama, terutama ketika mahasiswa berkumpul untuk menonton pertandingan olahraga.
Penelitian tidak dapat mengetahui bagaimana kedua perilaku tersebut saling memengaruhi dari waktu ke waktu. Namun, keduanya yang kerap muncul bersamaan menjadi alasan bagi layanan kesehatan kampus untuk menanyakan kedua persoalan tersebut ketika melakukan asesmen.
McAfee menilai situasi sosial seperti taruhan olahraga sambil minum alkohol dapat meningkatkan berbagai faktor risiko.
Peneliti juga menyoroti perubahan perilaku sosial sebagai salah satu hal yang patut diperhatikan.
Menjauh dari kelompok pertemanan atau menjadikan perjudian sebagai topik utama dalam hampir setiap percakapan dapat menjadi tanda adanya perubahan perilaku.
Masalah perjudian juga masih menghadapi stigma yang kuat. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang enggan mencari bantuan, terlebih ketika tidak mengetahui bagaimana cara membicarakan masalah yang sedang dialaminya.
Penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Data hanya diambil pada satu periode, responden berasal dari universitas negeri, dan jumlah mahasiswa dengan masalah perjudian paling berat relatif sedikit.
Peneliti juga menanyakan apakah mahasiswa berencana mengurangi beban kuliah, bukan apakah mereka benar-benar melakukannya.
Karena itu, hasil penelitian tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa perjudian secara langsung menyebabkan masalah kesehatan mental ataupun membuat mahasiswa mengurangi kuliah.
Studi mengenai hubungan perjudian, kesehatan mental dan kehidupan akademik mahasiswa tersebut diterbitkan dalam International Journal of Mental Health and Addiction. (*)
Sumber: Earth