Spanyol Bongkar Jaringan Perdagangan Anak Imigran

Rabu, 12/08/2026 11:05 WIB

JAKARTA - Kepolisian Spanyol berhasil membongkar jaringan kriminal yang merekrut anak-anak perempuan imigran tanpa pendamping dari pusat penampungan di Gran Canaria, sebelum membawa mereka ke daratan utama Spanyol dan Prancis untuk dieksploitasi secara seksual.

Operasi penindakan tersebut mengemuka pada Selasa (11/8) di tengah kembali memanasnya perdebatan mengenai isu migrasi di Eropa, menyusul gelombang penyeberangan massal dari Maroko ke wilayah Ceuta milik Spanyol bulan lalu yang menyebabkan ratusan anak di bawah umur terlunta-lunta.

Kepolisian Guardia Civil menjelaskan bahwa penyelidikan bermula usai seorang remaja perempuan imigran—yang sebelumnya berada di bawah pengasuhan otoritas Gran Canaria—kembali ke Spanyol dari Prancis dan melapor kepada penyidik bahwa dirinya telah direkrut dengan iming-iming tawaran pekerjaan.

Tim penyidik lantas mengidentifikasi sejumlah kasus serupa yang melibatkan anak-anak perempuan yang meninggalkan pusat penampungan tanpa membawa dokumen pribadi, sebelum akhirnya terdeteksi menaiki penerbangan menuju daratan Spanyol, tulis Guardia Civil dalam pernyataan resminya.

Jaringan kejahatan tersebut disinyalir memanfaatkan kerentanan para korban dengan menawarkan bantuan untuk keluar dari Kepulauan Canary, menyediakan dokumen identitas atau dokumen perjalanan palsu, serta mengatur rute perjalanan udara dan darat bagi mereka.

"Seluruh upaya tersebut dilakukan untuk memfasilitasi kepindahan mereka dari kepulauan, sebelum nantinya ditransfer ke daratan Spanyol dan Prancis di mana beberapa di antaranya diduga kuat menjadi sasaran eksploitasi seksual," bunyi pernyataan tersebut.

Guardia Civil mengonfirmasi berhasil menyelamatkan dua orang korban dan menggagalkan upaya penyelundupan empat anak di bawah umur lainnya dari kepulauan tersebut.

Sebanyak lima orang tersangka, termasuk satu anak di bawah umur, telah ditangkap pasca-serangkaian penggeledahan di lima titik di Gran Canaria.

Berdasarkan data pemerintah Spanyol, sekitar 72.000 imigran menerobos perbatasan Ceuta dalam insiden penerobosan massal yang mematikan pada 30-31 Juli lalu, di mana 70.000 di antaranya telah dipulangkan kembali ke Maroko.

Menteri Pemuda dan Anak Spanyol, Sira Rego, mengonfirmasi pada Jumat bahwa sebanyak 1,342 anak imigran tanpa pendamping telah terdaftar di Ceuta pasca-gelombang kedatangan massal dari Maroko tersebut.

Sejumlah lembaga bantuan internasional melayangkan peringatan bahwa anak-anak di bawah umur—yang banyak di antaranya terpaksa tidur di jalanan Ceuta—berada dalam ancaman bahaya kekerasan dan eksploitasi.

TERKINI
Rutan Bareskrim Polri Jadi Sarang Narkoba, Tes Urine Tahanan Negatif Spanyol Bongkar Jaringan Perdagangan Anak Imigran Komisi II Desak Pemerintah Investigasi Fenomena Pengunduran Diri ASN Melalui Inovasi Digital, Layanan Bank Ini Mendorong Gaya Hidup Sehat