Senin, 10/08/2026 17:30 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago mengungkap lebih dari 107 ribu hektare terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia hingga Agustus 2026.
"Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan terhitung 107 ribu hektare lebih. Sampai dengan hari ini," kata Djamari dalam konferensi pers di kantornya, pada Senin, 10 Agustus 2026.
Djamari memaparkan bahwa ancaman kemarau ekstrem ini menuntut penanganan ekstra cepat dan terukur dari seluruh pihak yang terlibat di lapangan.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menangani karhutla, baik melalui operasi udara maupun darat.
Karhutla Bromo Meluas 520 Hektare, Puan Desak Pemerintah Bertindak
Kebakaran Hutan Berulang, Komisi IV DPR Desak Kemenhut Ubah Strategi
Sahel Afrika Mulai Menghijau, Air Tanah dan Danau Chad Ikut Pulih
"Karena kesungguhan kita semua, kita sudah mulai mengerahkan banyak sekali tenaga, alat-alat peralatan untuk itu," ucap Djamari.
Untuk operasi udara, pemerintah mengerahkan sekitar 43 helikopter. Selain itu, terdapat 10 hingga 15 pesawat fixed-wing yang dapat dikerahkan sesuai kebutuhan.
Menurut Djamari, operasi udara merupakan langkah paling efektif untuk menangani karhutla, khususnya melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menghasilkan hujan buatan.
"Kemudian kalau Satgas Darat banyak sekali yang disiapkan, banyak sekali dan kekuatan yang tercantum cukup banyak di darat," ujarnya
Meski demikian, pelaksanaan OMC memiliki keterbatasan karena sangat bergantung pada keberadaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
"Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi yaitu kita menemukan ada awan hujan, istilahnya awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, tidak ada, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan," jelasnya.