Senin, 10/08/2026 13:46 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong hilirisasi inovasi sains guna menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, sains tidak menjadi sesuatu yang asing maupun hanya tumbuh di ruang-ruang kuliah.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, dalam gelar wicara bertajuk `Indonesia dalam Sejarah Sains, Sains dalam Sejarah Indonesia` di Museum Multatuli, Lebak, Banten, pada pekan lalu.
“Sains tidak boleh hanya tumbuh di ruang laboratorium atau kampus, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, menjadi dasar pengambilan keputusan, serta mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Dirjen Najib.
Pada kesempatan yang sama, anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menekankan pentingnya melihat sejarah sains secara lebih terbuka terhadap keberagaman sumber pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan lokal tidak perlu dipertentangkan dengan sains modern, tetapi perlu diangkat, dikaji secara kritis, dan dielaborasi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Penerima KIP Kuliah di Sejumlah PTN Menurun, Kemdiktisaintek Buka Suara
KPPTI 2025, Kemdiktisaintek Kumpulkan Seluruh Perguruan Tinggi
Pemerintah Siapkan Rp3 Triliun untuk Program Riset Prioritas
Bonnie kemudian mengangkat gagasan pluriversalitas pengetahuan, yakni pengakuan bahwa pengetahuan dapat tumbuh dari beragam pengalaman, kebudayaan, dan konteks masyarakat. Pendekatan ini tidak berarti menolak rasionalitas ilmiah, tetapi menghindarkan sains dari cara pandang tunggal yang justru dapat mengabaikan pengetahuan yang telah lama hidup di masyarakat.
Dalam kerangka tersebut, pengetahuan tradisional dapat menjadi sumber yang penting untuk diteliti lebih lanjut. Sains dapat berperan untuk menguji, memvalidasi, menjelaskan, dan mengembangkan pengetahuan lokal sehingga dapat dipahami secara lebih luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Yudi Darma menjelaskan bahwa tantangan penguatan budaya sains tidak hanya berkaitan dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sains, tetapi juga dengan keterlibatan publik dalam aktivitas dan percakapan ilmiah.
Survei Nasional Persepsi dan Minat terhadap Saintek 2025 yang dilakukan bersama LSI terhadap 1.203 responden menunjukkan sebanyak 87,9 persen masyarakat percaya terhadap sains dan 81,1 persen percaya terhadap ilmuwan serta peneliti. Namun angka tersebut belum dibarengi dengan partisipasi masyarakat terhadap sains dan teknologi.
"Sebanyak 88,2 persen masyarakat tidak terlibat dalam aktivitas saintek, 74,1 persen masyarakat mengaku tidak pernah berdiskusi tentang saintek, dan 87,3 persen jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah membaca jurnal atau buku ilmiah dalam satu tahun terakhir," tutur Yudi.
Kondisi tersebut, ucap Yudi menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap sains telah tumbuh, tetapi masih diperlukan lebih banyak ruang agar masyarakat dapat berdiskusi, berinteraksi dengan proses ilmiah, dan memahami bagaimana sebuah pengetahuan dibentuk serta diuji.
Karena itu, diseminasi sains perlu bergerak melampaui penyampaian hasil penelitian. Ruang publik, museum, sejarah, hingga pengalaman masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk mendekatkan cara berpikir ilmiah kepada masyarakat.