Kamis, 06/08/2026 06:59 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mengingatkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 untuk tidak hanya memetakan potensi sumber daya di kawasan transmigrasi, tetapi juga memastikan setiap komoditas unggulan memiliki akses pasar yang jelas.
Tanpa kepastian pasar dan rantai pasok yang terbangun, potensi ekonomi daerah dinilai sulit berkembang menjadi sumber pertumbuhan baru.
Direktur Pengawasan Bidang Energi, Pariwisata, dan Pembangunan Kewilayahan BPKP, Rizal Suhaili mengatakan salah satu persoalan yang kerap ditemui dalam pembangunan daerah adalah melimpahnya hasil produksi yang tidak diikuti dengan tersedianya pembeli atau offtaker. Akibatnya, produk masyarakat tidak terserap pasar dan gagal memberikan nilai tambah bagi perekonomian lokal.
"Sering kita dengar, membuat itu mudah, tetapi menjual itu yang menjadi masalah. Produk banyak, tetapi tidak ada yang membeli. Kalau ini terjadi, tidak ada pertumbuhan ekonomi di sana," ujar Rizal kepada 1.476 TEP dalam kegiatan Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Balai Kartini, Jakarta.
Kemenkop Dorong TEP 2026 Jadi Agen Perubahan Koperasi Kawasan Transmigrasi
Hampir 400 Tahun Setelah Karam, Kapal Batavia Masih Menyimpan Kisah Baru
Pendiri Jababeka Beberkan Strategi Tarik Investor ke Kawasan Transmigrasi
Untuk itu Rizal meminta Tim Ekspedisi Patriot tidak hanya mengidentifikasi potensi pertanian, perkebunan, peternakan, maupun perikanan di setiap kawasan transmigrasi. Melainkan memetakan ekosistem ekonomi yang mendukung berkembangnya komoditas tersebut.
Selain itu, Rizal menilai keberhasilan pembangunan kawasan harus ditopang oleh kolaborasi lima unsur utama, yakni masyarakat sebagai pelaku ekonomi, pemerintah daerah sebagai regulator, badan usaha atau koperasi sebagai penyuplai dan penyerap hasil produksi, lembaga keuangan sebagai penyedia akses pembiayaan, serta sistem pengawasan yang memastikan seluruh proses berjalan secara akuntabel.
"Pastikan nanti saat melakukan kajian di kawasan transmigrasi, ada badan usaha atau koperasi yang berperan sebagai offtaker. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menghasilkan produk tanpa kepastian siapa yang akan membeli," tegasnya.
Rizal juga mendorong Tim Ekspedisi Patriot untuk melihat pembangunan kawasan secara menyeluruh. Selain memetakan komoditas unggulan, tim diharapkan mampu mengidentifikasi kebutuhan inovasi, dukungan pembiayaan, hingga kebijakan pemerintah daerah yang diperlukan agar potensi ekonomi dapat berkembang secara berkelanjutan.
Ia menilai pendekatan tersebut akan membantu pemerintah merancang kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi yang lebih tepat sasaran dan berorientasi pada hasil.
Melalui pemetaan yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot 2026, pemerintah berharap setiap kawasan transmigrasi memiliki rekomendasi pengembangan ekonomi yang tidak hanya berbasis potensi lokal, tetapi juga didukung ekosistem usaha yang mampu membuka akses pasar, meningkatkan nilai tambah, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.