Minggu, 02/08/2026 22:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Korban meninggal akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, terus bertambah. Hingga Minggu (2/8), jumlah korban jiwa mencapai 38 orang, sementara ribuan warga masih bertahan di tempat-tempat pengungsian karena kerusakan yang ditimbulkan gempa.
Berdasarkan laporan media publik Jepang NHK, pemerintah setempat telah mengonfirmasi 36 korban meninggal, sedangkan dua kematian lainnya masih dalam proses penyelidikan untuk memastikan apakah berkaitan langsung dengan gempa yang terjadi pada Selasa pekan lalu.
Di tengah proses pemulihan, lebih dari 9.200 warga masih mengungsi di sekitar 210 lokasi penampungan darurat. Sementara itu, kerusakan bangunan terus bertambah dengan lebih dari 3.400 rumah dilaporkan terdampak.
Tidak hanya itu, pasokan air bersih juga belum sepenuhnya pulih. Hingga kini, lebih dari 69.000 rumah dan tempat usaha di Kumamoto masih mengalami gangguan layanan air bersih.
Korban Tewas Gempa Jepang Bertambah, Petugas Fokus Evakuasi Mal Runtuh
BMKG Konfirmasi Gempa 6,8 M Guncang Kumamoto Tak Berpotensi Tsunami di RI
Jepang Diguncang Gempa Magnitudo 7,1 Picu Peringatan Tsunami
Upaya pemulihan pascagempa semakin berat karena wilayah Kumamoto sedang dilanda suhu ekstrem. Pada Sabtu (1/8), suhu udara di sejumlah wilayah dilaporkan melampaui 37 derajat Celsius, memicu meningkatnya risiko gangguan kesehatan di lokasi pengungsian.
Sedikitnya 30 orang yang diduga mengalami gejala serangan panas (heatstroke) harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Selain warga, sejumlah fasilitas kesehatan yang ikut terdampak gempa juga masih berupaya memulihkan layanan agar dapat kembali beroperasi secara normal.
Pemerintah Prefektur Kumamoto mengingatkan bahwa skala kerusakan kemungkinan masih akan bertambah seiring proses inspeksi bangunan yang terus dilakukan.
Otoritas setempat menilai masih banyak bangunan yang belum diperiksa secara menyeluruh sehingga angka kerusakan belum mencerminkan kondisi sebenarnya.
Di sisi lain, operasi pencarian dan penyelamatan di sebuah pusat perbelanjaan Aeon resmi dihentikan pada Sabtu.
Lokasi tersebut menjadi salah satu titik paling terdampak setelah terjadi ledakan sesaat usai gempa mengguncang kawasan tersebut. Insiden itu menyebabkan tujuh pekerja meninggal dunia dan lima lainnya mengalami luka-luka.
Jepang merupakan salah satu negara dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia karena berada di kawasan Pacific Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.
Wilayah ini menjadi pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif yang memicu gempa bumi dan aktivitas vulkanik. Sekitar 20 persen gempa bumi berkekuatan magnitudo 6 atau lebih yang terjadi di dunia tercatat berada di kawasan Jepang.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan, sembari mempercepat pemulihan infrastruktur dan layanan dasar bagi ribuan warga yang masih terdampak bencana. (*)
Sumber: Anadolu