Kamis, 30/07/2026 21:50 WIB
Singapura, Jurnas.com - Menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial dianggap sebagai kegiatan mengasyikan oleh sebagian orang. Namun, tanpa disadari bahwa aktivitas bertukar pesan yang rentan memicu perundungan siber, serta scrolling yang membuat pengguna lupa waktu, membawa risiko besar bagi kesehatan mental.
Dalam penelitian yang dilakukan tim ahli Kementerian Kesehatan Singapura sejak 2025, tingkat bahaya tidak semata-mata diukur dari durasi menatap layar, melainkan dari cara generasi muda berinteraksi di platform media sosial.
Hal ini mencakup paparan terhadap desain antarmuka yang manipulatif, serta seberapa jauh media sosial menyita waktu yang seharusnya digunakan untuk kegiatan positif penunjang kesejahteraan hidup mereka.
Fakta lain dari laporan itu menunjukkan bahwa perilaku penggunaan yang bermasalah, seperti kebiasaan kompulsif atau kecanduan, memiliki kaitan yang jauh lebih erat dengan memburuknya kesejahteraan mental dibandingkan sekadar total waktu yang dihabiskan saat daring.
Wamen Giring Bagikan Tips agar Tak Terjebak Haus Validasi
10 Ucapan Hari Kebaya Nasional, Cocok untuk Postingan Medsos
Ternyata Bukan Menyendiri, Kesepian yang Paling Merusak Kesehatan Mental
Para ahli mengelompokkan fitur-fitur platform yang mengkhawatirkan ini ke dalam tiga kategori utama, yakni fitur yang memicu risiko keamanan, fitur yang mendorong durasi penggunaan berlebih, dan fitur yang memperparah kondisi mental.
Dikutip dari Straits Times pada Kamis (30/7), fitur pesan langsung, baik berupa obrolan pribadi maupun grup, berpotensi mempertemukan pengguna di bawah umur dengan orang dewasa yang tidak dikenal.
Tim pakar menilai celah ini sangat rentan dimanfaatkan untuk aksi perundungan siber, eksploitasi seksual (grooming), pelecehan, hingga penyebaran konten bermuatan seksual yang tidak diinginkan.
Risiko ini semakin parah dengan maraknya akun anonim atau akun palsu di media sosial. Keberadaan identitas samaran ini menghilangkan rasa tanggung jawab, memicu perilaku buruk, dan sekaligus menyulitkan korban untuk melacak ataupun melaporkan para pelaku yang mengincar mereka.
Dampaknya bisa sangat fatal. Sekitar satu dari lima pemuda di Singapura pada rentang usia 15 hingga 35 tahun mengaku pernah menjadi korban perundungan siber. Data menunjukkan bahwa para korban ini memiliki peluang dua kali lipat lebih besar untuk mengalami gejala depresi atau kecemasan dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalaminya.
Fitur gulir tanpa batas (infinite scroll) dan putar otomatis (autoplay) dirancang khusus untuk menahan pengguna agar berlama-lama di dalam platform. Dikatakan, sistem yang sengaja dirancang untuk memaksimalkan durasi interaksi ini sangat berpotensi memicu pola kecanduan dan penggunaan media sosial yang tidak sehat.
Berbeda dengan tayangan televisi atau artikel koran yang memiliki batasan akhir yang jelas, fitur-fitur manipulatif ini menciptakan aliran konten yang secara efektif tanpa batas. Sistem ini mengeksploitasi hasrat alami manusia untuk terus mencari hal-hal baru tanpa henti.
Karena titik henti alaminya dihilangkan, para pengguna terus terdorong untuk menggulir layar. Hal ini kerap kali mengorbankan waktu tidur, jam belajar, aktivitas fisik, kehidupan sosial, hingga berbagai tanggung jawab sehari-hari mereka.
Kalangan muda menjadi kelompok yang paling berisiko tinggi, karena cenderung belum memiliki kemampuan yang memadai untuk mengatur batas penggunaan perangkat mereka sendiri.
Sistem beranda yang menyusun urutan postingan berdasarkan tingkat interaksi justru dapat menjerumuskan pengguna pada konten-konten yang berbahaya. Menurut panel, hal ini terjadi karena unggahan yang memicu tekanan mental atau mengaduk emosi biasanya jauh lebih mudah mendapatkan reaksi dan keterlibatan audiens.
Sebuah survei nasional di Australia membuktikan bahwa sekitar separuh pesertanya pernah melihat konten yang berkaitan dengan tindakan menyakiti diri sendiri atau bunuh diri di media sosial. Sebagian besar paparan ini terjadi secara tidak sengaja, dan hampir setengah dari kasus tersebut menimpa pengguna yang masih berusia di bawah 16 tahun.
Generasi muda jauh lebih sering terpapar konten sensitif semacam ini dibandingkan orang dewasa. Panel mengungkapkan bahwa mayoritas responden merasa paparan tersebut sangat merusak suasana hati mereka, bahkan beberapa di antaranya mengaku terdorong untuk melukai diri sendiri meniru apa yang mereka lihat di dunia maya.
Keyword : Kesehatan Mental Media Sosial Perundungan Siber