Rabu, 29/07/2026 23:23 WIB
Jakarta, JUrnas.com - Pengembangan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru dinilai tidak cukup hanya mengandalkan potensi sumber daya alam. Diperlukan strategi hilirisasi, industrialisasi, serta iklim investasi yang mampu menarik pelaku usaha masuk ke daerah.
Hal itu disampaikan Founder & Chairman PT Kawasan Industri Jababeka Tbk, Darmono saat memberikan pembekalan kepada peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kementerian Transmigrasi, di Bogor, Jawa Barat.
Menurut Darmono, hilirisasi komoditas unggulan di kawasan transmigrasi maupun daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) membutuhkan terobosan besar. Pola pembangunan tidak bisa lagi dilakukan dengan pendekatan konvensional apabila ingin menciptakan kawasan ekonomi yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan keberhasilan pembangunan kawasan ditentukan oleh sinergi tiga elemen utama, yakni restu, waktu, dan kebijakan. Ketiga faktor tersebut harus berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur dasar agar kawasan mampu bersaing dalam menarik investasi.
Wamentrans Ajak Kadin Perluas Investasi di Kawasan Transmigrasi
Wamentrans: TEP 2026 Fokus Pengembangan Ekonomi dan Industrialisasi
BMKG Bekali Tim Ekspedisi Patriot Karakter Iklim Indonesia
"Kunci utama untuk menarik investor ke daerah adalah regulasi yang ramah dan kepastian infrastruktur. Regulasi di luar Jawa tidak bisa disamakan dengan di Pulau Jawa, sehingga harus ada diferensiasi insentif agar pengusaha mau masuk dan membangun dari nol," ujar Darmono dalam siaran pers Kementrans, Rabu (29/7)
Dalam paparanya ia menekankan pentingnya kolaborasi ABG (Academician, Businessmen, & Government) serta kehadiran figur pemuda (champion) di lapangan yang siap mengawal perubahan di daerah.
Ia juga menyampaikan pesan kepada seluruh peserta Tim Ekspedisi Patriot agar berani bermimpi besar untuk kemajuan daerah, dimulai dari langkah-langkah kecil bersama masyarakat lokal dan bergerak cepat mengeksekusinya.
Salah satu peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Tahun 2026, Iqbal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, menilai pembekalan yang diberikan telah memberikan pemahaman taktis sekaligus perspektif baru bagi para talenta muda yang akan bertugas di lapangan.
"Materi terkait Rantai Nilai dan Hilirisasi menjadi bekal yang sangat berharga bagi kami para peserta, khususnya untuk memahami esensi rantai pemasaran komoditas. Sebagai kelompok yang berfokus pada pembentukan kelembagaan ekonomi daerah, kami memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai alur distribusi pasar dari perspektif sektor swasta (private sector)," kata Iqbal.
Program Ekspedisi Patriot 2026 menjadi wujud komitmen strategis Kementerian Transmigrasi dalam menghadirkan pembangunan yang berbasis riset, kajian, dan pendampingan berkelanjutan.
Dengan melibatkan 1.476 talenta terbaik bangsa, program ini optimis mampu menjawab ketimpangan multidimensi serta mendorong potensi ekonomi kawasan transmigrasi.