Rabu, 29/07/2026 02:02 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 29 Juli, dunia menyatukan perhatian pada salah satu pemangsa puncak paling ikonis di bumi melalui peringatan Hari Harimau Sedunia (Global Tiger Day).
Momen tahunan ini bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan darurat bagi masyarakat global atas krisis kepunahan yang mengancam keberadaan satwa pemelihara keseimbangan ekosistem hutan ini.
Sejarah terbentuknya Hari Harimau Sedunia bermula pada tahun 2010 dalam ajang Saint Petersburg Tiger Summit di Rusia.
Saat itu, kekhawatiran mendalam melingkupi para pemimpin negara, pemerhati lingkungan, dan organisasi konservasi internasional menyusul data mengejutkan yang menunjukkan bahwa populasi harimau liar di seluruh dunia telah melonjak turun hingga 97 persen dalam kurun waktu satu abad.
29 Juli 2026: Cek Daftar Peringatan Hari Ini
Hari Cat Air Sedunia Setiap 28 Juli, Ini Sejarah hingga Tujuannya
Mengapa 28 Juli Diperingati Sebagai Hari Konservasi Alam Sedunia?
Menanggapi kondisi kritis tersebut, 13 negara yang menjadi habitat asli harimau (Tiger Range Countries) sepakat menandatangani Deklarasi St. Petersburg.
Melalui kesepakatan bersejarah tersebut, ditetapkanlah sasaran ambisius yang dikenal sebagai komitmen Tx2, yaitu target untuk melipatgandakan jumlah harimau liar di alam bebas.
Penetapan tanggal 29 Juli sebagai Hari Harimau Sedunia menjadi pilar utama untuk terus memobilisasi dukungan publik, menggalang pendanaan konservasi, serta mendorong kebijakan politik yang berpihak pada perlindungan satwa liar secara berkelanjutan.
Ancaman terbesar yang dihadapi harimau liar hingga kini meliputi perburuan dan perdagangan ilegal bagian tubuh harimau, pengerdilan serta fragmentasi habitat akibat alih fungsi lahan, hingga konflik yang makin sering terjadi antara harimau dan pemukiman warga.
Bagi Indonesia, sejarah dan urgensi Hari Harimau Sedunia terasa sangat dekat. Indonesia telah kehilangan dua dari tiga subspesies harimau aslinya, yakni Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan Harimau Bali (Panthera tigris balica) yang telah dinyatakan punah pada abad ke-20.
Saat ini, fokus perlindungan terpusat sepenuhnya pada Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), subspesies terakhir yang berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut daftar merah IUCN.
Peringatan Hari Harimau Sedunia setiap tanggal 29 Juli menjadi pengingat berharga bahwa upaya menyelamatkan harimau bukan sekadar menjaga satu spesies saja, melainkan juga mempertahankan kelestarian hutan hujan yang menjadi penopang kehidupan manusia.