Wabah Ebola Tembus 3.200 Kasus, Korban Tewas Lampaui 1.400 Orang

Senin, 27/07/2026 22:17 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus menunjukkan tren mengkhawatirkan. Jumlah korban meninggal kini telah melampaui 1.400 orang, sementara total kasus infeksi mencapai 3.200, menjadikannya salah satu wabah Ebola terbesar yang pernah melanda negara tersebut.

Data terbaru Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo pada Senin (27/7) mencatat sedikitnya 3.200 kasus Ebola sejak wabah ke-17 diumumkan pada pertengahan Mei 2026. Dari jumlah itu, 1.405 orang meninggal dunia, 773 pasien masih menjalani perawatan atau isolasi, sedangkan 571 pasien dinyatakan sembuh.

Penyebaran virus kini telah menjangkau lima provinsi, yakni Haut-Uele, Ituri, North Kivu, South Kivu, dan Tshopo. Otoritas kesehatan terus meningkatkan pengawasan, pemeriksaan laboratorium, pelacakan kontak, hingga penanganan pasien guna menekan laju penularan.

Besarnya skala wabah membuat situasi saat ini semakin mendekati rekor epidemi Ebola terbesar yang pernah terjadi di negara tersebut. Hingga kini, wabah terbaru hanya terpaut sekitar 270 kasus dari wabah ke-10 yang berlangsung pada Agustus 2018 hingga Juni 2020.

Pada wabah sebelumnya itu, pemerintah mencatat 3.470 kasus dengan 2.287 kematian, menjadikannya salah satu epidemi Ebola paling mematikan dalam sejarah Afrika.

Direktur Jenderal Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), Jean Kaseya, mengatakan pihaknya telah menyepakati langkah-langkah darurat bersama Perdana Menteri Republik Demokratik Kongo Judith Suminwa untuk memperkuat respons penanganan wabah.

Langkah tersebut meliputi peningkatan perlindungan bagi tenaga kesehatan di garis depan, penguatan sistem penanganan pasien, serta menutup berbagai celah operasional yang dinilai masih menghambat pengendalian penyebaran virus.

Seiring meningkatnya jumlah kasus, Africa CDC juga kembali menyerukan dukungan internasional. Pekan lalu, Jean Kaseya meminta para pemimpin Afrika dan mitra global menggalang dana sedikitnya US$1,4 miliar untuk memperkuat respons terhadap wabah Ebola di berbagai negara di benua Afrika.

Menurutnya, kebutuhan anggaran melonjak tajam dibandingkan estimasi awal sebesar US$518 juta, seiring memburuknya situasi wabah dan meningkatnya kebutuhan penanganan di lapangan.

Ebola merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengan tingkat kematian tinggi. Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi maupun benda yang telah terkontaminasi.

Karena itu, deteksi dini, isolasi pasien, pelacakan kontak, serta perlindungan tenaga medis menjadi langkah utama untuk memutus rantai penyebaran penyakit tersebut. (*)

Sumber: Anadolu

TERKINI
Anggota DPR: Rentetan Kekerasan di Berbagai Daerah Ancam Persatuan Bangsa Tak Cuma Gaya Hidup, Tempat Tinggal Bisa Berpengaruh pada Kesehatan Jantung Wamentrans: TEP 2026 Fokus Pengembangan Ekonomi dan Industrialisasi Wabah Ebola Tembus 3.200 Kasus, Korban Tewas Lampaui 1.400 Orang