Senin, 27/07/2026 20:26 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mendorong anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menjadi pemimpin adaptif yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.
Menurutnya, tantangan pembangunan di setiap daerah berbeda sehingga membutuhkan cara berpikir inovatif, bukan sekadar menjalankan rutinitas. Hal tersebut disampaikan saat memberikan pembekalan kepemimpinan kepada 1.476 anggota TEP 2026 di Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (26/7).
Ia menegaskan seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki pengetahuan akademik. Pemimpin juga harus memiliki visi, strategi, keberanian mengambil keputusan, mampu menginspirasi, serta menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
"Seorang pemimpin harus mempunyai visi dan strategi untuk mengambil keputusan yang tepat, memberi motivasi, menjadi inspirasi dan teladan, inovatif, serta mampu menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat," ujar Wamentrans Viva Yoga dalam keterangannya.
Wamentrans Yakin Tim Ekspedisi Patriot Jadi Penggerak Kawasan Transmigrasi
Wamentrans Dukung Penguatan Kawasan Transmigrasi Gorontalo
Bertemu Plt Bupati Kuansing, Wamentrans Usul Pembukaan Kawasan Transmigrasi
Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan bahwa kondisi di lapangan sering kali berbeda dengan teori yang dipelajari di ruang kuliah.
"Masing-masing kawasan transmigrasi memiliki tantangan yang berbeda," ujar Viva Yoga.
Menurutnya, setiap kawasan memiliki karakter sosial, budaya, ekonomi, hingga potensi sumber daya alam yang tidak sama. Karena itu, pendekatan yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan juga tidak bisa diseragamkan.
Sebagai contoh, Wamentrans Viva Yoga membandingkan cara berpikir pemimpin tradisional dengan pemimpin adaptif saat menghadapi persoalan gagal panen.
Menurutnya, pemimpin tradisional cenderung hanya melihat solusi sederhana, seperti menambah pupuk. Sementara pemimpin adaptif akan mencari akar persoalan secara menyeluruh, mulai dari pola tanam, kualitas benih, sistem irigasi, hingga peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.
"Bagi pemimpin adaptif pasti berpikir ada beberapa faktor penyebab gagal panen," katanya.
Karena itu, pemimpin adaptif harus berani menghadirkan inovasi, memperkenalkan metode baru, mengembangkan teknologi, serta membangun kerja sama untuk menghasilkan solusi yang lebih efektif.
"Pemimpin tradisional hanya bekerja rutin tanpa inovasi. Pemimpin adaptif, ia akan berinovasi, berkreasi, dan mencari solusi," tambah Viva Yoga.
Ia berharap seluruh anggota TEP mampu membuktikan kemampuan tersebut saat bertugas di kawasan transmigrasi.
"Hadirnya anggota TEP di kawasan transmigrasi harus membawa perubahan," tegasnya.
Program TEP 2026 melibatkan 1.476 peserta, terdiri atas 39 guru besar, 158 doktor, 263 magister, dan 1.016 sarjana dari 10 perguruan tinggi, yakni UI, IPB, ITB, Universitas Padjadjaran, UGM, Universitas Diponegoro, ITS, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
Sebelum diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di berbagai daerah, mereka memperoleh pembekalan untuk menindaklanjuti hasil riset TEP 2025 melalui berbagai inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Dalam kesempatan itu, Viva Yoga juga mengajak peserta belajar dari perjalanan para transmigran yang dinilainya berhasil karena memiliki karakter kepemimpinan adaptif.
Menurutnya, para transmigran berani meninggalkan kampung halaman menuju daerah baru dengan berbagai keterbatasan demi memperbaiki kehidupan keluarga.
Mereka menghadapi tantangan membuka lahan, membangun permukiman, hingga mengembangkan sumber ekonomi baru dengan semangat kerja keras, kesabaran, dan keberanian mengambil risiko.
Ketekunan tersebut tidak hanya meningkatkan kesejahteraan keluarga transmigran, tetapi juga melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah Indonesia.
"Dengan fakta demikian, pada masa Orde Baru transmigran disebut sebagai Pahlawan Pembangunan, pada masa Presiden Prabowo disebut dengan Patriot Bangsa," ujar Viva Yoga.