Ilmuwan Ungkap Kondisi 4 Planet Terdekat di Luar Tata Surya

Minggu, 26/07/2026 23:45 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Selama bertahun-tahun, para astronom berharap planet-planet terdekat di luar Tata Surya bisa menjadi kandidat dunia yang layak dihuni. Namun, harapan itu tampaknya harus pupus setelah penelitian terbaru mengungkap kondisi yang jauh dari kata ideal.

Studi yang dipublikasikan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society menyebut empat planet berbatu yang mengorbit Bintang Barnard (Barnard`s Star), salah satu tetangga terdekat Matahari, kemungkinan besar merupakan dunia yang panas, kering, hampir tanpa atmosfer, dan tidak mendukung kehidupan.

Dikutip dari Earth, temuan ini sekaligus memberi gambaran baru tentang seperti apa karakter planet-planet berbatu yang berada paling dekat dengan Tata Surya.

Barnard`s Star berada sekitar enam tahun cahaya dari Matahari dan merupakan bintang tunggal terdekat kedua setelah sistem Alpha Centauri. Selama lebih dari satu abad, bintang katai merah ini menjadi target pencarian planet.

Penelitian terbaru yang dipimpin Xander Byrne dari Institute of Astronomy, University of Cambridge, mengungkap bahwa empat planet yang mengelilinginya memiliki massa di antara Mars dan Bumi. Ukuran seperti ini bahkan tidak memiliki padanan di Tata Surya.

Keempat planet tersebut baru dikonfirmasi keberadaannya melalui penelitian pada 2025 yang mendeteksi tarikan gravitasi kecil terhadap bintang induknya.

Masing-masing planet mengitari Barnard`s Star hanya dalam hitungan hari. Bahkan planet terluarnya menyelesaikan satu kali revolusi dalam waktu kurang dari sepekan.

Para peneliti menemukan komposisi kimia Barnard`s Star sangat berbeda dibanding Matahari.

Bintang ini mengandung magnesium lebih dari dua kali lipat dibanding silikon. Karena planet terbentuk dari material yang sama dengan bintang induknya, komposisi tersebut diperkirakan juga dimiliki keempat planet.

Akibatnya, mantel planet didominasi mineral periklase, bukan olivin seperti di Bumi. Perbedaan ini sangat penting karena periklase hanya mampu menyimpan air dalam jumlah jauh lebih sedikit.

Hasil pemodelan menunjukkan planet terbesar di sistem tersebut hanya mampu menyimpan sekitar setengah cadangan air yang dimiliki planet berbatu seukuran Bumi.

Artinya, kondisi kering tersebut bukan terjadi karena air menguap, melainkan sudah terbentuk sejak awal proses pembentukan planet.

Selain kering, posisi planet yang sangat dekat dengan Barnard`s Star membuat semuanya diperkirakan mengalami tidal locking, yaitu hanya satu sisi yang terus menghadap bintang, sementara sisi lainnya selalu berada dalam kegelapan.

Kondisi itu menyebabkan satu belahan planet menerima panas terus-menerus, sedangkan sisi lainnya tidak pernah mendapat sinar langsung. Situasi semakin buruk karena para peneliti memperkirakan planet-planet ini hampir tidak memiliki atmosfer.

Radiasi dari Barnard`s Star diyakini mampu mengikis atmosfer dalam waktu relatif singkat. Bahkan jika sebelumnya memiliki atmosfer tebal yang didominasi hidrogen dan helium, lapisan tersebut diperkirakan akan hilang dalam waktu kurang dari dua miliar tahun.

Usia sistem Barnard`s Star diperkirakan mencapai sekitar 10 miliar tahun atau lebih dari dua kali usia Matahari. Seiring bertambahnya usia, panas dari peluruhan radioaktif di dalam planet ikut berkurang sehingga aktivitas geologi seperti vulkanisme melemah drastis.

Padahal, aktivitas gunung api merupakan salah satu mekanisme penting yang dapat membentuk kembali atmosfer sebuah planet.

Karena ukuran planet-planet ini juga relatif kecil, panas internal lebih cepat hilang dibandingkan Bumi. Akibatnya, peluang terbentuknya atmosfer baru menjadi sangat kecil.

Di balik kabar kurang menggembirakan tersebut, penelitian ini membawa terobosan penting.

Tim peneliti menunjukkan bahwa komposisi kimia sebuah bintang dapat digunakan untuk memperkirakan karakter planet-planet yang mengorbitnya, bahkan ketika planet tersebut belum dapat diamati secara langsung.

Pendekatan ini dinilai akan membantu astronom mempelajari ribuan planet kecil yang sulit diamati menggunakan teleskop saat ini.

"Planet-planet yang berukuran lebih besar jauh lebih mudah dideteksi dibandingkan planet-planet yang berukuran kecil," kata Byrne.

Dalam beberapa tahun mendatang, teleskop generasi baru diperkirakan mampu mengamati atmosfer planet-planet Barnard`s Star secara langsung sehingga hasil pemodelan ini dapat diuji.

Untuk sementara, seluruh bukti menunjukkan bahwa empat planet terdekat di luar Tata Surya tersebut merupakan dunia yang panas, tandus, nyaris tanpa udara, dan sangat tidak bersahabat bagi kehidupan seperti yang dikenal di Bumi. (*)

Sumber: 

TERKINI
Benarkah Semua Hewan Akan Masuk Surga? Tulisan Ayat Kursi Lengkap dengan Artinya Bolehkah Mandi Wajib Tidak Keramas? Panduan Menulis Surat Lamaran Kerja yang Profesional dan Menarik