Jum'at, 24/07/2026 22:55 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Bayi yang lahir sangat prematur ternyata memiliki peluang besar untuk menjalani kehidupan yang baik saat dewasa. Namun, sebuah studi jangka panjang selama 34 tahun menemukan bahwa sekitar satu dari lima bayi prematur menghadapi tantangan serius ketika memasuki usia pertengahan 30-an.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal JAMA Pediatrics itu mengungkap bahwa faktor yang paling membedakan mereka bukanlah kondisi ekonomi keluarga, pola asuh, maupun jumlah teman semasa kecil. Faktor yang paling kuat justru kemampuan berpikir dan memecahkan masalah saat berusia delapan tahun.
Dikutip dari Earth, temuan tersebut berasal dari Bavarian Longitudinal Study, penelitian yang mengikuti perkembangan bayi sejak lahir di wilayah Bavaria, Jerman, antara Januari 1985 hingga Maret 1986.
Peneliti membandingkan bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu atau memiliki berat lahir di bawah 1,5 kilogram dengan bayi yang lahir cukup bulan sebagai kelompok pembanding. Perkembangan mereka dipantau sejak masa bayi, usia enam dan delapan tahun, hingga kembali dievaluasi saat berusia 34 tahun.
Waspada Konsumsi Gula Berlebih, Peran Penting MPASI dan Pilihan Susu
Penggerebekan Israel, 31 Bayi Prematur Dievakuasi ke Gaza Selatan
Kelas Orang Tua Hebat BKKBN, Tingkatkan Pemahaman Pengasuhan Bayi Prematur
Dari 715 peserta yang masih memenuhi syarat, sebanyak 416 orang mengikuti evaluasi pada usia dewasa.
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas peserta yang lahir sangat prematur mampu menjalani kehidupan yang baik ketika dewasa.
Sekitar 56 persen bayi prematur masuk dalam kelompok dengan kondisi ekonomi, hubungan sosial, dan kualitas hidup yang baik. Angka tersebut memang lebih rendah dibanding kelompok kelahiran cukup bulan yang mencapai sekitar 70 persen.
Sebaliknya, sekitar 18 persen peserta yang lahir sangat prematur berada dalam kelompok dengan kondisi paling rentan. Mereka cenderung memiliki pendapatan rendah, sedikit teman dekat, tidak memiliki pasangan, serta tingkat kepuasan hidup yang jauh lebih rendah dibanding peserta lainnya. Pada kelompok kelahiran cukup bulan, proporsi ini hanya sekitar lima persen.
Untuk mengetahui penyebab perbedaan tersebut, peneliti menelusuri berbagai faktor yang tercatat selama masa kanak-kanak.
Sebanyak 10 indikator dianalisis, mulai dari kemampuan kognitif, pengendalian diri, kualitas pola asuh, hubungan pertemanan, kondisi ekonomi keluarga, hingga suasana emosional di rumah.
Setelah seluruh faktor dibandingkan, hanya satu yang secara konsisten menjadi prediktor terkuat, yakni kemampuan berpikir dan memecahkan masalah pada usia delapan tahun.
Peningkatan satu tingkat standar dalam kemampuan kognitif pada usia tersebut dikaitkan dengan penurunan sekitar 80 persen risiko seseorang masuk ke kelompok dewasa yang mengalami berbagai kesulitan hidup.
Direktur penelitian, Prof. Dieter Wolke dari University of Warwick, mengatakan kemampuan kognitif yang baik tidak hanya berpengaruh terhadap prestasi pendidikan dan pekerjaan.
Kemampuan tersebut juga berkaitan dengan peluang memiliki hubungan sosial yang sehat, memperoleh pasangan hidup, serta mengambil keputusan dengan risiko yang lebih terukur.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya dukungan bagi anak yang lahir prematur setelah melewati masa balita.
Selama ini, perhatian terhadap bayi prematur umumnya berfokus pada dua tahun pertama kehidupan karena dianggap sebagai periode dengan risiko kesehatan tertinggi.
Padahal, hasil studi menunjukkan usia sekolah dasar merupakan fase penting untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir, termasuk membaca, berhitung, daya ingat, konsentrasi, dan keterampilan memecahkan masalah.
Menurut Wolke, pola asuh juga memiliki peran penting karena merupakan faktor yang masih dapat diperbaiki untuk membantu meningkatkan kemampuan kognitif anak.
Meski lahir sangat prematur meningkatkan risiko menghadapi tantangan saat dewasa, penelitian ini menegaskan bahwa mayoritas peserta tetap mampu menjalani kehidupan yang baik hingga usia 34 tahun.
Para peneliti menilai temuan ini memberikan petunjuk penting bagi tenaga kesehatan, sekolah, maupun orang tua untuk memberi perhatian lebih pada perkembangan kemampuan berpikir anak selama masa sekolah dasar.
Mereka menyebut penelitian selanjutnya perlu menguji apakah intervensi yang mampu meningkatkan kemampuan kognitif sejak usia dini juga dapat memperbaiki kualitas hidup bayi prematur ketika memasuki usia dewasa. (*)