Rabu, 22/07/2026 19:10 WIB
Moskow, Jurnas.com - Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov membeberkan bahwa dia akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio di Manila, Filipina, pada Kamis (23/7) besok. Poin pembicaraan akan difokuskan pada perang di Ukraina dan Timur Tengah.
"Pertemuan tersebut bagaimanapun akan bermanfaat. Senang rasanya bisa mengajukan pertanyaan dan mendapatkan jawaban," kata Lavrov dikutip dari AFP pada Rabu (22/7).
Dia mengatakan pertemuan itu akan berlangsung pada Kamis pagi di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri Asia Tenggara (ASEAN) di ibu kota Filipina tersebut.
Sebelumnya, Moskow telah mengutuk rentetan serangan terbaru Washington terhadap sekutu utamanya, Iran. Pembicaraan yang dipimpin AS mengenai pengakhiran perang di Ukraina telah terhenti, seiring perhatiannya yang beralih ke Timur Tengah dan di saat Rusia tetap berpegang teguh pada tuntutan garis kerasnya agar Ukraina menyerahkan sebagian wilayahnya.
AS Tuding Iran Jadikan Selat Hormuz Sebagai Alat Tawar Perundingan
Menlu AS Sebut Jika Perundingan Gagal, Itu 100 Persen Salah Iran
Menlu AS Tawarkan US$100 Juta ke Kuba, Syaratnya Ganti Rezim
Rubio, yang sempat berbicara singkat dengan Lavrov di sebuah jamuan makan malam kenegaraan, mengatakan di Manila bahwa keduanya akan membahas Ukraina ketika ditanya rencananya menekan Lavrov mengenai masalah tersebut.
"Perang di Ukraina, menurut saya, dalam banyak hal telah menghambat kemampuan Rusia dan Amerika Serikat untuk menemukan titik temu kesepakatan pada topik-topik lainnya," ujar Rubio.
"Hal itu bukan berarti kami tidak akan berusaha mencari area potensi kerja sama lainnya. Namun di sisi lain, kami ingin melihat perang itu berakhir. Jadi kami akan mengangkat masalah tersebut, dan AS tetap terbuka serta bersedia memainkan peran konstruktif untuk mengakhiri perang itu," dia menambahkan.
Presiden AS Donald Trump mendukung kampanye serangan balik jarak jauh Ukraina terhadap fasilitas-fasilitas energi Rusia, sebagai sebuah eskalasi yang dapat berujung pada berakhirnya perang.
Serangan-serangan tersebut telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar di seluruh Rusia, salah satu negara produsen minyak terkemuka di dunia.