China Jadi Penentu Masa Depan Sawit Dunia, Ini Temuan Peneliti

Sabtu, 18/07/2026 23:52 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Minyak sawit telah menjadi salah satu komoditas paling penting di dunia. Bahan baku ini digunakan dalam berbagai produk, mulai dari mi instan, biskuit, cokelat, kosmetik, sabun, deterjen, hingga bahan bakar nabati.

Di balik efisiensinya yang tinggi dibandingkan kedelai maupun bunga matahari, industri sawit juga terus menjadi sorotan karena kerap dikaitkan dengan deforestasi, kerusakan lahan gambut, hilangnya keanekaragaman hayati, serta tingginya emisi karbon.

Dikutip dari Earth, kini, sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa komitmen iklim China berpotensi mengubah arah industri sawit global, asalkan produksi benar-benar dilakukan tanpa membuka hutan maupun mengeringkan lahan gambut.

Mengapa peran China sangat besar? China merupakan importir minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah India. Sebagian besar pasokannya berasal dari Indonesia dan Malaysia, dua negara produsen sawit terbesar di dunia.

Minyak sawit digunakan secara luas dalam industri makanan di China, seperti mi instan, roti, camilan goreng, hingga produk kosmetik dan berbagai kebutuhan industri.

Besarnya permintaan tersebut membuat setiap perubahan standar pembelian di China berpotensi memengaruhi praktik produksi sawit di negara-negara pemasok.

Penulis korespondensi penelitian, Zhihua Mu dari Qinghai University dan Hainan Seed Industry Laboratory, mengatakan China memiliki posisi strategis untuk mendorong rantai pasok sawit yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, peningkatan standar pengadaan, sistem pelacakan, perhitungan emisi karbon, hingga kerja sama teknologi dapat membuat industri sawit menjadi lebih transparan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

China telah menetapkan target ambisius untuk mencapai puncak emisi karbon sebelum 2030 dan menjadi negara netral karbon pada 2060. Namun, penelitian ini menemukan adanya kelemahan penting.

Kebijakan iklim China selama ini lebih banyak menghitung emisi yang dihasilkan di dalam negeri, sementara emisi dari proses produksi komoditas impor, termasuk minyak sawit, belum diperhitungkan secara menyeluruh.

Padahal, pembukaan hutan dan lahan gambut untuk perkebunan sawit di negara produsen menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar dalam rantai pasok komoditas tersebut.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa sawit tidak otomatis merusak lingkungan. Tanaman kelapa sawit mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam batang, daun, akar, hingga tanah. Namun manfaat tersebut sangat bergantung pada lokasi penanamannya.

Jika perkebunan dibangun di lahan yang sudah terdegradasi, sawit justru dapat meningkatkan penyimpanan karbon.

Sebaliknya, apabila perkebunan menggantikan hutan tropis atau lahan gambut, maka emisi karbon yang dihasilkan sangat besar dan membutuhkan puluhan tahun untuk dikompensasi, bahkan dalam beberapa kasus tidak pernah sepenuhnya tergantikan.

Para peneliti menilai teknologi dapat membantu meningkatkan transparansi industri sawit. Pemanfaatan citra satelit, blockchain, dan sistem pelacakan digital memungkinkan asal-usul minyak sawit ditelusuri mulai dari perkebunan hingga menjadi produk di rak toko.

Namun teknologi saja dinilai belum cukup. Tanpa standar yang jelas, verifikasi independen, serta pengawasan yang kuat, sistem pelacakan hanya menghasilkan data tanpa mampu mendorong perubahan nyata.

Penelitian juga menyoroti besarnya potensi limbah industri sawit. Tandan kosong, serat, cangkang sawit, hingga limbah cair pabrik sebenarnya dapat dimanfaatkan menjadi listrik, biogas, biofuel, biochar, maupun sumber energi terbarukan lainnya.

Di antara berbagai pilihan tersebut, teknologi penangkapan gas metana dan pemanfaatan biomassa dinilai paling siap diterapkan karena telah terbukti efektif dan layak secara ekonomi.

Para peneliti merekomendasikan tiga langkah utama untuk mempercepat transformasi industri sawit. Pertama, memperketat standar keberlanjutan dan sistem pelacakan minyak sawit impor. Kedua, memasukkan emisi dari seluruh rantai pasok global ke dalam perhitungan karbon.

Ketiga, memperluas investasi pada teknologi yang telah terbukti mampu mengurangi emisi dan memanfaatkan limbah sawit.

Zhihua Mu menegaskan tidak ada satu solusi tunggal untuk menjadikan industri sawit benar-benar berkelanjutan. Menurutnya, kemajuan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi pemerintah, perusahaan, lembaga keuangan, petani, hingga konsumen.

Dengan posisinya sebagai pembeli utama minyak sawit dunia, setiap kebijakan baru China berpotensi menjadi titik balik yang menentukan apakah industri sawit global akan bergerak menuju praktik yang lebih ramah lingkungan atau tetap mempertahankan pola lama yang membebani iklim. (*)

Kajian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Agricultural Ecology and Environment.

SUmber: Earth

TERKINI
Prakiraan Cuaca Hari Ini, Sejumlah Daerah Berpotensi Hujan Petir 3 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Diabaikan Empat Warga Termasuk Satu Anak Tewas dalam Serangan Israel Belgia Larang Impor Barang Israel dari Wilayah Palestina