Monyet Bermulut Oranye, Spesies Baru Hutan Kongo yang Terancam Punah

Sabtu, 18/07/2026 22:59 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Di tengah lebatnya hutan hujan Republik Demokratik Kongo, para ilmuwan berhasil mengungkap keberadaan spesies monyet baru yang selama ini luput dari perhatian dunia sains. Primata bermulut oranye mencolok tersebut diberi nama Likweli, dan menjadi salah satu penemuan paling langka di Afrika dalam beberapa dekade terakhir.

Penemuan ini tergolong istimewa karena Likweli merupakan spesies monyet Afrika kelima yang berhasil dideskripsikan dalam 75 tahun terakhir. Analisis genetik juga menunjukkan bahwa primata ini telah berevolusi secara terpisah selama sekitar lima juta tahun, menjadikannya salah satu garis keturunan tertua dalam kelompok monyet colobus.

Dikutip dari Earth, kisah penemuan Likweli bermula pada 2008 ketika tim survei memotret seekor monyet hitam yang tampak berbeda di kawasan Sungai Lomami, Kongo. Namun, kualitas foto yang buram membuat identitas hewan tersebut tidak dapat dipastikan.

Baru pada 2018, patroli Taman Nasional Lomami kembali memotret primata serupa dengan ciri khas bercak oranye pucat mengelilingi mulut serta warna putih di bawah ekornya.

Saat para peneliti menelusuri arsip foto lama, mereka menemukan bahwa monyet misterius itu ternyata telah beberapa kali terekam kamera, tetapi selama bertahun-tahun salah diidentifikasi sebagai spesies lain.

Apa yang membuat Likweli berbeda? Selama empat tahun berikutnya, tim peneliti berhasil mendokumentasikan 114 kali perjumpaan dengan Likweli.

Primata ini memiliki tubuh relatif kecil dengan berat sekitar 7 kilogram, bulu hitam mengilap, serta bercak kulit berwarna oranye krem di sekitar mulut yang menjadi ciri paling mencolok.

Kulit abu-abu di pipi dan area hitam di sekitar mata membuat wajahnya tampak seperti mengenakan topeng.

Menurut ahli biologi dari Florida Atlantic University, Kate Detwiler, warna oranye di sekitar mulut langsung menarik perhatian tim saat pertama kali melihat fotonya.

Awalnya, para ilmuwan belum yakin apakah hewan tersebut merupakan spesies baru atau hanya subspesies dari monyet colobus yang telah dikenal.

Kepastian baru diperoleh pada 2021 ketika petugas taman nasional menyita tiga bangkai monyet hasil perburuan ilegal yang hendak dijual sebagai bushmeat atau daging satwa liar.

Dari spesimen itulah para peneliti akhirnya dapat mempelajari bentuk tubuh, tengkorak, gigi, hingga mengambil sampel DNA.

Hasil analisis menunjukkan Likweli memiliki kerabat terdekat berupa black colobus, monyet hitam yang hidup lebih dari 1.100 kilometer jauhnya di hutan Afrika bagian barat-tengah.

Meski masih berkerabat, analisis genetik memperkirakan keduanya telah berpisah sejak sekitar lima juta tahun lalu, menjadikannya pemisahan evolusi terdalam yang pernah ditemukan dalam kelompok colobus.

Likweli hanya ditemukan di kawasan seluas sekitar 1.700 kilometer persegi di Cekungan Kongo.

Wilayah hidupnya diapit sungai dan kawasan hutan berpasir putih yang miskin unsur hara. Kondisi tersebut diduga menjadi penghalang alami yang membuat spesies ini terisolasi selama jutaan tahun.

Berbeda dengan kerabatnya, Likweli juga diperkirakan memiliki pola makan yang berbeda. Bentuk giginya menunjukkan primata ini tidak terlalu bergantung pada biji-bijian keras sebagai sumber makanan utama.

Di balik penemuan yang menggembirakan, para ilmuwan justru menyampaikan peringatan serius.

Populasi Likweli diperkirakan sangat sedikit dan hanya menghuni hutan tua yang kini semakin tertekan akibat pembukaan lahan, pertanian, serta perburuan liar. Selama bertahun-tahun survei intensif, para peneliti hanya menemukan spesies ini dalam jumlah kecil.

Karena itu, tim peneliti merekomendasikan agar Likweli segera masuk dalam daftar spesies terancam punah, sehingga memperoleh perlindungan konservasi yang lebih kuat.

Penemuan Likweli menjadi bukti bahwa hutan hujan Kongo masih menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap.

Sebelumnya, kawasan yang sama juga melahirkan penemuan spesies monyet Lesula pada 2012. Para ilmuwan bahkan meyakini masih ada spesies lain yang belum pernah didokumentasikan.

Bagi para peneliti, penemuan Likweli bukan sekadar menambah daftar satwa baru, tetapi juga menjadi pengingat bahwa menjaga hutan tropis terbesar kedua di dunia sama pentingnya dengan menemukan spesies yang hidup di dalamnya.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS One.

Sumber: Earth

TERKINI
3 Penyebab Siksa Kubur yang Sering Diabaikan Berbagai Amalan Sunah yang Menerangi Alam Kubur Anda 5 Ciri-Ciri Husnul Khatimah yang Dijelaskan Rasulullah dalam Hadis Barcelona Siap Lepas Jules Kounde Asal Ada Tawaran Rp1,1 Triliun