Rabu, 15/07/2026 12:38 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Alpukat selama ini dikenal sebagai buah yang kaya lemak sehat, serat, dan berbagai vitamin. Kini, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengonsumsi satu buah alpukat setiap hari berpotensi membantu menurunkan risiko penyakit jantung, bahkan ketika kadar kolesterol seseorang terlihat normal.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Lipidology. Para peneliti menemukan bahwa manfaat alpukat bukan hanya memengaruhi kadar kolesterol, tetapi juga jumlah partikel kolesterol jahat (LDL) yang selama ini jarang diperhatikan dalam pemeriksaan kesehatan rutin.
Dikutip dari Earth, penelitian ini dipimpin oleh tim dari Pennsylvania State University (Penn State) dengan menganalisis sampel darah 786 orang dewasa yang memiliki lingkar perut berlebih.
Dalam penelitian tersebut, selama enam bulan, separuh peserta diminta mengonsumsi satu alpukat setiap hari, sementara peserta lainnya tetap menjalani pola makan seperti biasa.
Pola Makan Sehat Ini Diklaim Bisa Turunkan Risiko Penyakit Jantung
Studi: Satu Malam Kebisingan Lalu Lintas Bisa Picu Stres pada Jantung
Ini Gejala Kardiomiopati yang Sering Dianggap Kelelahan Biasa
Menurut peneliti utama Janhavi Damani, dua orang bisa memiliki kadar kolesterol LDL yang sama, tetapi risiko penyakit jantungnya berbeda.
Hal itu karena kolesterol diangkut oleh partikel kecil yang disebut LDL particles. Semakin banyak jumlah partikel tersebut, semakin besar peluang partikel masuk ke dinding pembuluh darah dan membentuk plak yang dapat menyumbat aliran darah.
"Bayangkan dua orang memiliki kadar kolesterol LDL yang sama. Satu orang membawa kolesterolnya dalam sedikit partikel berukuran besar, sementara yang lain membawanya dalam lebih banyak partikel kecil. Orang kedua memiliki risiko penyakit jantung yang lebih tinggi meskipun hasil pemeriksaan kolesterolnya sama," ujar Damani menjelaskan.
Partikel LDL yang berukuran kecil dan padat lebih mudah menembus dinding arteri. Lama-kelamaan, penumpukan plak membuat pembuluh darah menjadi kaku dan menyempit sehingga meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke.
Setelah 26 minggu, peserta yang rutin mengonsumsi alpukat mengalami penurunan jumlah partikel LDL sekitar 49 nanomol per liter dibandingkan kelompok yang tidak mengonsumsi alpukat.
Berdasarkan penelitian sebelumnya mengenai penyakit kardiovaskular, penurunan tersebut diperkirakan berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung sekitar 4 persen.
Meski tidak sebesar manfaat yang diperoleh dari perbaikan pola makan secara menyeluruh, para peneliti menilai hasil ini tetap berarti.
"Penurunan empat persen memang tergolong moderat dibandingkan penurunan risiko 14 hingga 29 persen yang diperoleh dari perbaikan pola makan secara keseluruhan. Namun ini merupakan langkah ke arah yang lebih baik," kata Damani.
Menariknya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa konsumsi alpukat setiap hari tidak memberikan perubahan berarti terhadap berat badan maupun lingkar pinggang peserta.
Selain itu, ukuran partikel LDL, kadar HDL, trigliserida, penanda inflamasi, hingga indikator resistensi insulin juga tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Artinya, manfaat utama alpukat dalam penelitian ini lebih berkaitan dengan berkurangnya jumlah partikel LDL daripada menurunkan berat badan atau mengubah profil kolesterol secara drastis.
Peneliti menjelaskan bahwa manfaat tersebut kemungkinan berasal dari kombinasi berbagai nutrisi yang terkandung dalam alpukat.
Buah ini kaya akan serat yang membantu mengurangi penyerapan kolesterol di usus. Alpukat juga mengandung fitosterol, yaitu senyawa alami dari tumbuhan yang membantu hati membersihkan partikel LDL dari aliran darah.
Selain itu, alpukat merupakan sumber lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fat), kalium, dan folat yang selama ini dikenal berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung dan metabolisme tubuh.
Menurut peneliti senior Kristina Petersen, penelitian sebelumnya memang sudah menunjukkan manfaat alpukat terhadap kolesterol. Namun, studi terdahulu dilakukan dengan pola makan peserta yang dikontrol secara ketat.
Penelitian terbaru ini justru dilakukan dalam kondisi kehidupan sehari-hari sehingga hasilnya dinilai lebih mencerminkan kebiasaan masyarakat.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa di tengah pola makan yang beragam dalam kehidupan sehari-hari, konsumsi alpukat tetap dapat berkontribusi terhadap pola makan yang lebih sehat," ujar Petersen.
Damani menambahkan bahwa perubahan kecil sering kali lebih mudah diterapkan dibandingkan mengubah seluruh pola makan sekaligus.
Bagi orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas, menambahkan satu buah alpukat ke dalam menu harian dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki kualitas pola makan sekaligus mendukung kesehatan jantung. (*)