Senin, 13/07/2026 11:03 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Fenomena gempa ganda atau kembar yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026 membuka babak baru dalam penelitian gempa bumi dunia.
Dua gempa besar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang terjadi hanya dalam selang waktu 39 detik itu dinilai menjadi bukti bahwa beberapa sesar aktif dapat saling memicu, sehingga menghasilkan kerusakan yang jauh lebih besar daripada perkiraan selama ini.
Dikutip dari Live Science, temuan tersebut membuat para ilmuwan kembali menyoroti sistem Sesar San Andreas di California, Amerika Serikat, yang memiliki karakteristik serupa dan selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu zona gempa paling berbahaya di dunia.
Menurut laporan Live Science, dua gempa tersebut memiliki episentrum berbeda di Venezuela bagian utara-tengah. Gempa pertama terjadi di dekat San Felipe, sedangkan gempa kedua muncul di dekat Yumare. Rangkaian gempa itu menewaskan sedikitnya 12 orang serta melukai ribuan lainnya.
BMKG Pastikan Gempa M 5,5 Guncang Selat Sunda Tak Berpotensi Tsunami
Korban Gempa Venezuela Bertambah Jadi 3.342 Jiwa, Ribuan Bangunan Rusak
Puan Dorong Protokol Perlindungan WNI Usai 3 Negara Diguncang Gempa
Para peneliti menyebut peristiwa tersebut sebagai earthquake doublet atau gempa kembar, yaitu dua gempa besar yang terjadi hampir bersamaan akibat perpindahan tegangan antarsesar.
Selama ini banyak model bahaya gempa memperlakukan setiap sesar sebagai struktur yang berdiri sendiri. Namun penelitian terbaru menunjukkan kenyataannya jauh lebih kompleks.
Gempa besar dapat memindahkan tekanan ke sesar di sekitarnya sehingga memicu patahan lain hanya dalam hitungan detik.
Fenomena serupa pernah terjadi pada gempa Turki tahun 2023 dan Pakistan pada 1997. Kini Venezuela menjadi contoh terbaru yang memberikan data lebih lengkap mengenai bagaimana beberapa sesar dapat saling memengaruhi.
Mengapa California ikut menjadi perhatian? Tim peneliti menjelaskan bahwa sistem sesar Venezuela memiliki sejumlah kemiripan dengan Sesar San Andreas.
Keduanya merupakan sesar geser mendatar (strike-slip fault) yang berada di batas dua lempeng tektonik besar. Di Venezuela, sesar berada di antara Lempeng Amerika Selatan dan Karibia, sedangkan San Andreas berada di antara Lempeng Pasifik dan Amerika Utara.
Meski demikian, ilmuwan dari Geological and Mining Institute of Spain, Julián García Mayordomo, mengatakan sistem sesar Venezuela sebenarnya lebih rumit karena melibatkan lebih banyak patahan yang saling berhubungan.
Selain itu, kecepatan pergerakan lempeng di San Andreas sekitar 30 milimeter per tahun, sedikit lebih cepat dibanding Venezuela yang sekitar 20 milimeter per tahun.
Gempa besar bisa terjadi pada lebih dari satu sesar. Penelitian ini memperkuat dugaan bahwa gempa besar tidak selalu berasal dari satu patahan saja.
Liliane Burkhard, ahli geologi dari University of Bern, mengatakan interaksi antar-sesar berperan penting dalam menentukan bagaimana sebuah gempa berkembang.
Menurutnya, lokasi seperti pertemuan Sesar San Andreas dan San Jacinto merupakan kawasan yang tidak bisa lagi dianalisis menggunakan model lama yang hanya menghitung satu sesar secara terpisah.
Di California sendiri terdapat sekitar 300 sesar aktif, sehingga kemungkinan interaksi antarpatahan menjadi tantangan besar dalam memprediksi gempa di masa depan.
Bagi para ahli, gempa Venezuela memberikan kesempatan langka untuk mengamati secara langsung bagaimana satu gempa besar dapat memicu gempa besar lainnya.
Selama ini banyak penelitian hanya mengandalkan rekonstruksi jejak gempa purba (paleoseismologi) untuk memahami proses tersebut. Kini para ilmuwan memiliki data instrumen modern yang merekam interaksi sesar secara real time.
Meski demikian, Burkhard mengingatkan bahwa gempa Venezuela berbeda dengan konsep earthquake gate yang pernah ditelitinya di California.
Jika di California satu patahan diperkirakan dapat meneruskan retakan ke patahan lain dalam satu rangkaian gempa, maka di Venezuela tampaknya terjadi dua patahan berbeda yang aktif secara berurutan dalam waktu sangat singkat.
Peristiwa serupa sebenarnya telah mendorong perubahan kebijakan di Selandia Baru.
Setelah gempa KaikÅura pada 2016 mematahkan sedikitnya 12 sesar dalam satu kejadian, negara itu memperbarui model bahaya gempa nasional dengan memasukkan skenario gempa multifault atau melibatkan banyak sesar sekaligus.
García Mayordomo menilai Venezuela maupun Amerika Serikat perlu melakukan langkah serupa.
Menurutnya, gempa yang melibatkan beberapa sesar dapat menghasilkan guncangan lebih lama sehingga meningkatkan kelelahan struktur bangunan dan memperbesar risiko runtuh.
Ia mengibaratkan fenomena tersebut seperti pertandingan tinju.
"Bukan pukulan paling keras yang selalu menentukan hasil, tetapi siapa yang mampu terus memukul lebih lama," ujarnya.
Meski hasil penelitian ini dinilai penting, para ilmuwan mengingatkan bahwa satu peristiwa tidak cukup untuk mengubah seluruh pemahaman tentang gempa bumi.
Ahli gempa dari Cornell University, Judith Hubbard, mengatakan setiap gempa hanya menunjukkan satu kemungkinan dari begitu banyak perilaku patahan yang dapat terjadi.
Karena itu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui seberapa sering interaksi antarsesar mampu menghasilkan gempa besar seperti yang terjadi di Venezuela.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa memahami hubungan antarsesar dapat menjadi kunci untuk meningkatkan sistem mitigasi dan memperbarui model risiko gempa di berbagai negara, terutama di wilayah dengan jaringan patahan aktif yang kompleks seperti California. (*)