Rabu, 08/07/2026 12:33 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Wakil Menteri Haji dan Umrh (Wamenhaj) RI mengingatkan jajarannya untuk menghentikan seluruh praktik buruk yang menjadikan jemaah haji dan umrah sebagai komoditas ekonomi.
Pesan tersebut disampaikan Wamenhaj saat menutup Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1447 H/2026 M dan Retret Kemenhaj di Lapangan Makodau I, Jakarta.
"Jangan pernah menjadikan jemaah haji dan umrah sebagai komoditas. Mereka bukan objek untuk diperdagangkan atau dimanfaatkan. Mereka adalah subjek perubahan, subjek transformasi peradaban dan keadaban. Era Kemenhaj adalah era yang mengakhiri praktik menjadikan jemaah sebagai komoditas," kata Wamenhaj dalam keterangannya, dikutip Rabu (8/7).
Lebih lanjut, Wamenhaj menekankan bahwa setiap insan Kemenhaj memikul tiga amanah besar, yakni amanah dari Allah SWT, amanah dari jemaah haji sekaligus rakyat Indonesia, serta amanah dari Presiden Republik Indonesia.
Kemenhaj Usul BPIH 2027 Naik Jadi Rp107,34 Juta Per Orang
Rakernas Evaluasi Haji, Wamenhaj: Kemenhaj Harus Benar-benar Berwajah Baru
Biaya BPIH Diprediksi Naik, Kemenhaj Upayakan Jemaah Tak Terbebani
"Tiga amanah ini harus kita selesaikan dengan penuh tanggung jawab. Setiap kebijakan dan pelayanan yang kita lakukan harus berorientasi pada kepentingan jemaah dan kemaslahatan bangsa," ujarnya.
Wamenhaj menegaskan transformasi penyelenggaraan haji harus dimulai dari penguatan integritas. Menurutnya, tidak boleh ada ruang bagi praktik manipulasi, rente, maupun penyalahgunaan kewenangan dalam seluruh proses pelayanan haji.
"Kalau ada kementerian yang seharusnya benar-benar bersih dari praktik manipulasi dan praktik rente, maka kementerian itu adalah Kemenhaj. Mimpi terbesar mayoritas umat Islam Indonesia adalah bisa menunaikan ibadah haji. Jika amanah itu dikhianati, maka yang dikhianati bukan hanya rakyat, tetapi juga amanah Allah dan diri kita sendiri," tegasnya.
Menurut Wamenhaj, lebih dari 5,7 juta masyarakat Indonesia yang saat ini mengantre keberangkatan haji merupakan amanah besar negara. Seluruh calon jemaah harus memperoleh pelayanan yang adil, profesional, transparan, dan bermartabat.
Selain menekankan integritas, Wamenhaj juga kembali mengingatkan arah besar pembangunan penyelenggaraan haji melalui konsep Tri Sukses Haji.
Pertama adalah sukses ritual, yakni memastikan seluruh jemaah dapat menunaikan rangkaian ibadah sejak keberangkatan hingga kembali ke Tanah Air dengan aman, nyaman, dan khusyuk.
Kedua adalah sukses ekosistem ekonomi haji, yaitu memastikan besarnya nilai ekonomi penyelenggaraan haji mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia melalui penguatan industri dan ekosistem ekonomi haji nasional. Ketiga adalah sukses peradaban dan keadaban.
Menurut Wamenhaj, ibadah haji tidak hanya menghasilkan haji yang mabrur, tetapi juga melahirkan generasi bangsa yang berintegritas dan mampu meneruskan keteladanan tokoh-tokoh nasional seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim, Ahmad Dahlan, dan Hasyim Asy`ari.
Ia juga menyampaikan pesan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia menjadi wajah Islam yang damai, disiplin, maju, dan berkeadaban di mata dunia melalui penyelenggaraan ibadah haji.
Karena itu, aparatur Kemenhaj diminta menjadi diplomat bangsa yang mampu menghadirkan pelayanan terbaik sekaligus memperkuat citra positif Indonesia di tingkat internasional.
"Presiden ingin menyampaikan kepada dunia bahwa kiblat wajah Islam yang damai, disiplin, dan memajukan hadir dari Indonesia. Karena itu, saudara semua harus menjadi diplomat bangsa yang membawa kebaikan bagi umat melalui pelayanan haji yang berkualitas," pungkasnya.