Alasan Mendiang Ali Khamenei Baru Dimakamkan Pasca 4 Bulan Meninggal

Jum'at, 03/07/2026 19:30 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei baru akan dimakamkan pada 9 Juli 2026. Pemakaman ini berlangsung lebih dari empat bulan pasca ia wafat dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu.

Jenazah Khamenei saat ini telah tiba di Teheran untuk upacara besar yang direncanakan di setidaknya lima kota di Iran dan Irak, dimulai pada Jumat (3/7).

Banyak muncul pertanyaan mengapa pemakaman Khamenei baru digelar beberapa bulan setelah kematiannya? Simak ulasannya berikut ini.

Diketahui bahwa penundaan pemakaman selama empat bulan ini menjadi catatan sejarah yang tidak biasa, khususnya dalam tradisi pemakaman pemimpin besar Islam.

Mengutip NDTV World, Otoritas Iran menyebut bahwa penundaan pemakaman ini disebabkan oleh kondisi perang yang sangat berat dan fluktuatif melawan Amerika Serikat serta Israel.

Selama masa penundaan tersebut, jenazah Ayatollah Khamenei dilaporkan disimpan di fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) sesuai dengan persyaratan hukum dan agama.

Pakar hukum Syiah menyebutkan bahwa dalam kasus luar biasa seperti perang, penundaan penguburan dan pengawetan dengan suhu dingin diperbolehkan secara hukum Islam.

Lebih lanjut, proses pemakaman akan berlangsung selama beberapa hari di Teheran, Qom, Karbala, Najaf, dan Mashhad. Khamenei dijadwalkan dimakamkan di kompleks Makam Imam Reza, Mashhad, yang merupakan kota kelahirannya.

Adapun penundaan pemakaman ini merupakan indikasi adanya keadaan luar biasa yang dihadapi Iran setelah kematiannya, di tengah bombardir hebat AS-Israel selama berminggu-minggu.

Meski terdapat desas-desus bahwa jenazahnya dimakamkan sementara, para pejabat Iran membantah bahwa penundaan tersebut disebabkan oleh kondisi yang parah dan tidak menentu dari perang yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel.

Mereka juga mengatakan bahwa jenazah Ayatollah disimpan sesuai dengan persyaratan agama.

Pakar kontra-terorisme Dr. Mohammed Omar mengatakan kepada Fox News Digital bahwa jenazah Ayatollah hampir pasti disimpan dalam penyimpanan dingin ber-refrigerasi, bukan pembalseman, karena Islam melarang pembalseman kimia."

"Hukum Syiah memperbolehkan penundaan penguburan dan pengawetan dengan suhu dingin dalam kasus-kasus luar biasa, dan pengecualian keagamaan untuk pemimpin tertinggi mudah didapatkan," katanya.

"Kamar mayat forensik Iran sudah menyimpan jenazah selama berbulan-bulan, jadi empat bulan dalam keadaan beku bukanlah hal yang aneh. Itulah yang tercakup dalam `standar agama dan hukum`," tambah Mohammed.

Sebagai informasi, Ayatollah Khamenei bukan hanya seorang kepala negara biasa. Ia juga seorang ulama Muslim Syiah yang berwibawa dengan pengikut di Irak, Pakistan, Lebanon, dan negara-negara Asia lainnya, di mana potretnya sering terlihat di demonstrasi Syiah.

Khamenei dianggap sebagai "marja" dalam peringkat ulama Syiah. Ini berarti yurisprudensi agamanya menjadi sumber yang diikuti oleh banyak penganut Syiah di seluruh dunia.

Meskipun banyak ulama Syiah menganggap Ayatollah Agung Ali Sistani di Irak sebagai otoritas ulama terpenting dalam ajaran tersebut, Khamenei memiliki pengaruh politik yang tak tertandingi berkat aliansi yang dipupuk oleh pemerintahan teokratisnya dengan kelompok-kelompok militan Syiah di seluruh dunia Arab.

Ia juga memimpin Korps Garda Revolusi Islam, sebuah kekuatan militer ideologis yang mendukung pasukan Syiah seperti Hizbullah di Lebanon.

 

TERKINI
Bacaan Idgham Bighunnah dalam Al-Qur`an dan Cara Membacanya Catat Ya! Ini Doa Setelah Membaca Al-Qur`an Lengkap dengan Artinya 25 Kata-Kata Mutiara Umar bin Khattab yang Penuh Makna 11 Tempat Bersejarah di Yogyakarta yang Sarat Nilai Budaya