Selasa, 30/06/2026 14:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena yang berbeda, meski keduanya sama-sama dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan musim kemarau merupakan siklus iklim tahunan, sedangkan El Nino adalah fenomena iklim global yang terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
"Fenomena El Nino merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa El Nino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda," kata Faisal dalam siaran pers, Selasa (30/6).
"Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Nino terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau," kata Faisal lagi.
BMKG : Waspadai Fenomena El Nino Kuat Bertepatan dengan Musim Kemarau
Mendagri Minta Kepala Daerah hingga Kades Antisipasi Dampak El Nino
Gelombang Air Hangat Raksasa Terdeteksi, El Nino Diprediksi Sangat Kuat
Hal tersebut disampaikannya dalam Sosialisasi Kesiapsiagaan Menghadapi Dampak Fenomena El Nino pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Dalam kesempatan itu, Faisal menyampaikan hasil pemantauan BMKG terbaru menunjukkan El Nino 2026 telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. Fenomena tersebut diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan.
Namun, Faisal menegaskan durasi El Nino tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau selama periode tersebut.
"Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan," ujarnya.
BMKG memperkirakan dampak El Nino paling terasa pada Juli hingga Oktober 2026, terutama di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan yang berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal.
Selain meningkatkan risiko kekeringan, El Nino juga berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, menurunkan kualitas udara, mengganggu sektor pertanian, mengurangi ketersediaan air, hingga meningkatkan risiko penyakit seperti ISPA dan gangguan kesehatan akibat suhu panas.
Karena itu, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan diingatkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar pengambilan kebijakan, mengingat setiap daerah memiliki karakteristik iklim yang berbeda.
Keyword : Info BMKGEl NinoMusim Kemarau