Panas Ekstrem Ancam Upaya Pengendalian Polusi, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Minggu, 28/06/2026 12:51 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Selama lebih dari satu dekade, China berhasil mencatat kemajuan besar dalam memperbaiki kualitas udara melalui pembatasan emisi dari kendaraan, industri, hingga pembangkit listrik. Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa gelombang panas ekstrem berpotensi membalikkan capaian tersebut.

Alih-alih terus menurun, kadar ozon di udara justru melonjak tajam saat suhu ekstrem melanda. Temuan ini mengungkap bahwa perubahan iklim dapat memunculkan sumber polusi baru yang selama ini kurang diperhitungkan.

Penelitian yang dilakukan tim ilmuwan dari Fudan University, bekerja sama dengan peneliti dari Duke University dan University of California, Irvine (UCI), menunjukkan bahwa panas ekstrem memicu reaksi alami antara tumbuhan dan tanah yang mempercepat pembentukan ozon di atmosfer.

Para peneliti menyoroti gelombang panas ekstrem yang melanda China pada musim panas 2022 sebagai salah satu peristiwa paling signifikan.

Saat itu, suhu rata-rata nasional meningkat dari sekitar 23 derajat Celsius menjadi hampir 25 derajat Celsius, dengan suhu tertinggi mencapai sekitar 46 derajat Celsius.

Wilayah yang terdampak paling parah adalah Cekungan Sungai Yangtze. Di beberapa lokasi, suhu tercatat sekitar 6 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Seiring meningkatnya suhu dan kekeringan, kadar ozon harian di kawasan tersebut melonjak hingga 21 persen dibandingkan rata-rata periode 2020-2021.

Kenaikan ini jauh melampaui tren sebelumnya. Pada periode 2013-2019, peningkatan ozon hanya bertambah sekitar 1,9 bagian per miliar (ppb) per tahun.

Studi ini menemukan bahwa suhu tinggi mendorong pohon dan vegetasi melepaskan lebih banyak senyawa organik reaktif yang dikenal sebagai terpenoid, termasuk isoprena.

Di wilayah terdampak paling berat, emisi senyawa tersebut melonjak lebih dari 130 persen dibandingkan kondisi normal. Pada saat yang sama, tanah yang mengering juga melepaskan lebih banyak nitrogen oksida.

Kombinasi kedua zat inilah yang kemudian memicu pembentukan ozon dalam jumlah besar.

"Vegetasi dan tanah pada dasarnya berkonspirasi selama gelombang panas. Pohon melepaskan senyawa reaktif yang meningkatkan kapasitas oksidasi atmosfer, lalu atmosfer memanfaatkan nitrogen dari tanah untuk membentuk ozon jauh lebih cepat daripada yang selama ini diperkirakan," tulis tim peneliti.

Menurut peneliti, mekanisme ini sebelumnya belum pernah diamati secara menyeluruh.

Temuan tersebut memunculkan kekhawatiran baru. Selama ini, strategi pengendalian polusi lebih banyak berfokus pada pengurangan emisi dari aktivitas manusia.

Padahal, ketika suhu terus meningkat akibat perubahan iklim, sumber alami seperti tumbuhan dan tanah dapat menjadi kontributor penting terhadap pencemaran udara.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa memasukkan faktor ini ke dalam kebijakan lingkungan, upaya pengendalian polusi berpotensi kehilangan efektivitas.

"Jika mekanisme ini tidak diperhitungkan dalam strategi pengendalian polusi, kita bisa terus berputar di tempat seiring iklim yang semakin menghangat," ujar para peneliti.

Studi tersebut juga menyoroti sisi lain dari program penghijauan skala besar.

Meski penanaman pohon sangat penting untuk menyerap karbon dan menekan pemanasan global, sebagian jenis vegetasi ternyata menghasilkan senyawa yang dapat memperburuk pembentukan ozon saat gelombang panas terjadi.

Karena itu, para ilmuwan mendorong agar perencanaan penghijauan di masa depan turut mempertimbangkan aspek kimia atmosfer.

Menurut mereka, strategi penghijauan dan pengendalian polusi harus dirancang secara terpadu agar keduanya saling mendukung, bukan justru saling bertentangan.

Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya meningkatkan risiko suhu ekstrem, tetapi juga dapat memperumit upaya menjaga kualitas udara di masa depan. (*)

Hasil studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science and Ecotechnology.

Sumber: Earth

TERKINI
KSTI 2026, Begini Pesan dan Arahan Presiden Prabowo untuk Para Akademisi Betrand Peto Curhat di Medsos, Begini Respon Sarwemdah Dugaan Penganiayaan, Keluarga Korban ART Tewas di Cileungsi Minta Keadilan Hari Berkabung Daerah Kalbar Setiap 28 Juni, Ini Sejarah dan Tujuannya