Perkuat Konektivitas Logistik, AFFA Gelar Council Mid-Year Meeting

Sabtu, 27/06/2026 08:36 WIB

BATAM, Jurnas.com – ASEAN Federation of Forwarders Associations (AFFA) bersama Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menggelar Council Mid-Year Meeting 2026 di Batam, Kamis-Jumat (25-26/6/2026).

Pertemuan yang mengusung tema “Strengthening ASEAN Logistics Connectivity through Trade Facilitation, Digitalization, Security, and Capacity Development” ini mempertemukan perwakilan sepuluh asosiasi anggota AFFA dari seluruh negara ASEAN bersama para pemangku kepentingan logistik nasional.

Pertemuan digelar di tengah transformasi besar sektor logistik kawasan Asia Tenggara, dengan pertumbuhan perdagangan intra-ASEAN, diversifikasi manufaktur global, ekspansi e-commerce, serta meningkatnya kebutuhan akan rantai pasok yang tangguh dan berkelanjutan. 

Pasar freight dan logistik ASEAN diperkirakan bernilai sekitar US$288 miliar pada 2025 dan berpotensi menembus US$390 miliar pada 2030, dengan Indonesia sebagai kontributor terbesar di kawasan.

Konektivitas logistik adalah urat nadi integrasi ekonomi ASEAN. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan pergeseran rantai pasok global, kawasan kita harus memperkuat kolaborasi agar tetap kompetitif. Forum ini menjadi ruang bagi para pelaku untuk menyatukan langkah dan merumuskan posisi bersama,” ujar Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), M. Akbar Djohan melalui keterangannya, Sabtu (27/6/2026).

Senada dengan Akbar, Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA) sekaligus Ketua Dewan Penasihat ASEAN Federation of Freight Forwarders Association (AFFA), Yukki Nugrahawan Hanafi, menilai bahwa pemilihan Batam sebagai tuan rumah sarat makna strategis. 

“Batam adalah contoh nyata bagaimana konektivitas pelabuhan, fasilitasi perdagangan, transformasi digital, dan infrastruktur logistik dapat menopang daya saing kawasan. Menjadikan Batam tuan rumah adalah penegasan komitmen kita untuk mengangkat simpul-simpul logistik baru yang berkontribusi pada integrasi ekonomi ASEAN,” ujar Yukki.

Batam berada di tepi Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Sepanjang 2025, lebih dari 102.500 kapal melintasi selat ini atau naik dari sekitar 94.300 kapal pada 2024, dimana aktivitas logistik wilayah ini mengangkut sekitar seperempat barang yang diperdagangkan dunia. 

Berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Free Trade Zone serta berdekatan dengan Singapura, Batam menjadi gerbang maritim yang menghubungkan Indonesia dengan kawasan dan ekonomi global.

Pertemuan AFFA Mid-Year Meeting berfokus pada tiga pilar strategis, yakni pilar fasilitasi perdagangan yang membahas implementasi ASEAN Single Window, modernisasi kepabeanan, transportasi multimoda, hingga partisipasi UMKM dalam perdagangan kawasan.

Pilar keamanan dan digitalisasi menyoroti freight forwarding digital, Electronic Bill of Lading (eBL), keamanan siber, serta visibilitas dan ketahanan rantai pasok. 

Sedangkan pilar pengembangan kapasitas menekankan pengembangan SDM, sertifikasi profesi, serta partisipasi perempuan dan generasi muda di sektor logistik. 

Selain itu, pertemuan ini juga menyertakan tiga Working Group penting mengenai AFFA Logistics Institute (ALI), Trade Facilitation Working Group, serta Sustainability and Digitalization Working Group.

Yukki menegaskan bahwa ketiga pilar strategis dan working group ini saling terkait dan tak bisa dipisahkan dengan kebutuhan pelaku usaha dalam rantai pasok global. “Fasilitasi perdagangan yang lancar harus ditopang sistem digital yang aman dan SDM yang kompeten. Efisiensi logistik tidak terbatas pada infrastruktur fisik, tetapi juga tata kelola, teknologi, serta investasi pada pendidikan, pengembangan keterampilan, dan kapasitas talenta yang relevan dengan kebutuhan industri. Di situlah fondasi rantai pasok ASEAN yang tangguh dan adaptif dibangun agar semakin terintegrasi dengan rantai pasok global,” tutur Yukki.

Pertemuan ini diharapkan menghasilkan sejumlah keluaran konkret, mulai dari AFFA Strategic Priorities 2026–2027, rekomendasi kebijakan fasilitasi perdagangan ASEAN, rekomendasi keamanan dan digitalisasi rantai pasok, hingga peta jalan pengembangan kapasitas kawasan. Agenda lengkap juga turut mencakup country updates, presentasi teknis, diskusi meja bundar, serta adopsi resolusi dan rekomendasi. Selain itu, bergabungnya Timor Leste menjadi bagian AFFA juga masih dalam proses keanggotaan.

Chairman ASEAN Federation of Freight Forwarders Association (AFFA), Chalermsak Karnchanawarin, menutup dengan menegaskan posisi strategis kawasan Asia Tenggara dalam rantai pasok global yang dinamis. “Selat Malaka mengingatkan kita bahwa ASEAN berada di jantung perdagangan dunia. Tugas kita memastikan posisi strategis ini diterjemahkan menjadi manfaat nyata untuk akselerasi arus barang yang efisien, biaya logistik yang kompetitif, dan ekonomi kawasan yang berkelanjutan. Dari Batam, kita perkuat fondasi itu bersama,” tutup Chalermsak.

TERKINI
Tiga Negara Teken Kerangka Kerja Kesepakatan Akhiri Konflik Lebanon Statistik Head to Head Timnas Inggris vs Panama Hamilton Bidik Gelar Juara Dunia Bersama Ferrari SMKN 61 Jakarta Asah Skill Calon Lulusan sebelum Kerja ke Jepang