Jum'at, 26/06/2026 21:05 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Selama puluhan tahun, para ilmuwan meyakini bahwa gas nitrogen monoksida (NO) yang banyak berasal dari asap kendaraan dan pembakaran bahan bakar dapat menekan pembentukan partikel polusi di udara perkotaan. Namun, penelitian terbaru justru mengungkap hal sebaliknya.
Tim peneliti dari Tampere University, Finlandia, menemukan bahwa dalam kadar tertentu, nitrogen monoksida justru dapat mempercepat pembentukan partikel polusi berbahaya di atmosfer perkotaan.
Dikutip dari Earth, temuan tersebut menantang pemahaman lama mengenai kimia atmosfer dan berpotensi mengubah cara ilmuwan memprediksi kualitas udara di kota-kota besar.
"Temuan kami menunjukkan bahwa nitrogen monoksida lebih mungkin meningkatkan pembentukan partikel dari senyawa volatil tertentu, bukan menekannya," kata peneliti utama, Shawon Barua.
Hari Ini, Kualitas Udara Jakarta Terburuk di Dunia
Rabu Pagi, Kualitas Udara Jakarta Terburuk Ketiga di Dunia
Pakai Masker, Udara Jakara Tak Sehat Sabtu Pagi
Penelitian ini berfokus pada kelompok polutan yang dikenal sebagai aromatic carbonyls, yakni senyawa kimia yang banyak ditemukan pada emisi kendaraan, aktivitas industri, pelarut, hingga produk rumah tangga beraroma.
Senyawa-senyawa tersebut selama ini diketahui berperan dalam pembentukan aerosol sekunder, yaitu partikel mikroskopis di udara yang dapat memengaruhi kesehatan manusia dan iklim.
Untuk mengamati proses kimia tersebut, para peneliti menggunakan reaktor khusus yang dihubungkan dengan spektrometer massa berkecepatan tinggi. Alat ini memungkinkan mereka memantau pembentukan molekul baru secara langsung.
Dalam eksperimennya, tim meneliti tiga senyawa umum di udara perkotaan, yakni benzaldehida, fenilasetaldehida, dan asetofenon. Hasilnya cukup mengejutkan. Pada konsentrasi nitrogen monoksida rendah hingga sedang, produksi molekul kaya oksigen justru meningkat tajam.
Pada senyawa asetofenon, peningkatan pembentukan molekul tersebut bahkan mencapai sepuluh kali lipat dibandingkan kondisi tanpa tambahan nitrogen monoksida.
Fenomena ini berbanding terbalik dengan teori lama yang menyebut gas tersebut seharusnya menghambat proses pembentukan partikel.
Namun, ketika kadar nitrogen monoksida meningkat hingga lebih dari sekitar 300 bagian per miliar, yakni tingkat yang lazim ditemukan di kawasan dengan lalu lintas padat, efeknya berubah. Gas tersebut kembali bertindak sebagai penghambat pembentukan partikel.
Para peneliti juga menemukan bahwa reaksi kimia di atmosfer berlangsung sangat cepat. Beberapa molekul mampu menangkap hingga 12 atom oksigen dalam waktu kurang dari satu detik.
Untuk memahami mekanisme di balik fenomena ini, tim menggunakan simulasi komputer yang memodelkan tahapan reaksi secara rinci.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa nitrogen monoksida tidak selalu menghentikan reaksi oksidasi seperti yang selama ini diyakini. Dalam kondisi tertentu, gas tersebut justru mengubah fragmen molekul menjadi bentuk yang lebih reaktif sehingga menghasilkan lebih banyak partikel polusi.
Meski demikian, tidak semua polutan menunjukkan respons serupa. Benzaldehida, misalnya, hampir tidak mengalami peningkatan pembentukan partikel ketika terpapar nitrogen monoksida.
Sebaliknya, senyawa ini lebih banyak berubah menjadi nitrofenol, polutan perkotaan lain yang juga berpotensi membahayakan kesehatan.
Menurut para peneliti, perbedaan kecil dalam struktur kimia ternyata dapat menghasilkan perilaku yang sangat berbeda di atmosfer.
Temuan ini dinilai penting karena model kualitas udara yang digunakan selama ini masih belum sepenuhnya mampu memprediksi jumlah partikel halus di perkotaan secara akurat.
Padahal, partikel halus atau particulate matter diketahui berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit jantung, gangguan pernapasan, hingga kematian dini.
Para ilmuwan menilai pemahaman baru mengenai peran nitrogen monoksida dapat membantu pemerintah dan pembuat kebijakan merancang strategi pengendalian polusi udara yang lebih efektif di masa depan. (*)
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Communications.
Sumber: Earth