Kamis, 25/06/2026 18:19 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menyambut positif rencana perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Menurutnya, stabilitas kawasan Timur Tengah menjadi faktor penting bagi pemulihan ekonomi global, termasuk Indonesia yang dalam beberapa pekan terakhir turut terdampak gejolak harga energi dan ketidakpastian pasar keuangan.
Dave menilai penghentian serangan yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump, merupakan sinyal positif bagi upaya meredakan konflik yang berpotensi mengguncang perekonomian dunia.
Pemerataan Dokter Spesialis Harus Sejalan dengan Kualitas Pendidikan
Sahroni Serap Aspirasi Warga Jakbar soal Pendidikan di Asmas MPR RI
Legislator PDIP: Krisis Selat Hormuz Ancam Ketahanan Energi Indonesia
“Kalau kita melihat kondisi ekonomi beberapa waktu terakhir, dampak konflik memang langsung terasa. Nilai tukar dolar masih tinggi, pasar saham belum sepenuhnya pulih, tetapi harga minyak sudah mulai turun dan berada di bawah 70 dolar AS per barel,” kata Dave dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema Rencana Damai AS-Iran dan Dampaknya terhadap Negara Asia Termasuk Indonesia di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (25/6).
Menurut Dave, penurunan harga minyak menjadi perkembangan yang menggembirakan karena berpotensi mendorong perbaikan sejumlah indikator ekonomi lainnya. Namun demikian, dia mengingatkan bahwa momentum tersebut harus diiringi kebijakan fiskal dan ekonomi domestik yang tepat agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.
“Kita berharap harga minyak yang turun bisa diikuti dengan membaiknya indikator ekonomi lainnya, termasuk stabilitas nilai tukar rupiah dan penguatan pasar modal,” ujarnya.
Politikus Golkar itu menegaskan bahwa keberlanjutan proses damai sangat bergantung pada komitmen seluruh pihak yang terlibat, khususnya AS, Iran, dan Israel. Karena itu, dia berharap tidak ada tindakan militer lanjutan yang dapat memicu eskalasi baru di kawasan.
“Kita tentu berharap seluruh pihak memegang komitmennya. Jangan sampai ada tindakan yang justru memicu ketegangan baru dan mengguncang stabilitas dunia,” katanya.
Dave menilai stabilitas Timur Tengah memiliki pengaruh langsung terhadap jalur perdagangan internasional serta keamanan pasokan energi global. Oleh sebab itu, Indonesia perlu terus mendukung berbagai upaya diplomasi yang mengarah pada penyelesaian konflik secara damai.
Dia menekankan bahwa politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjalin komunikasi dengan seluruh pihak sekaligus berkontribusi dalam mendorong perdamaian tanpa berpihak pada blok tertentu.
“Indonesia harus terus menyokong perdamaian. Kita memiliki posisi yang baik untuk berkomunikasi dengan semua pihak dan mendorong terciptanya kesepakatan yang dapat menjaga stabilitas kawasan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dave berpandangan Indonesia dapat memainkan peran yang lebih aktif melalui berbagai forum internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, guna memastikan proses perdamaian berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang terdampak konflik.
Selain penghentian kekerasan, dia juga menilai perhatian dunia perlu diarahkan pada agenda rekonstruksi dan pembangunan pascakonflik di sejumlah wilayah terdampak, seperti Gaza dan Lebanon. Langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan stabilitas jangka panjang sekaligus membuka kembali peluang pertumbuhan ekonomi di kawasan.
“Perdamaian harus diikuti dengan pembangunan kembali wilayah yang terdampak konflik. Dengan begitu, masyarakat bisa kembali menjalankan aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial secara normal,” tutup Dave.
Dave optimistis, apabila proses damai dapat dijaga secara konsisten oleh seluruh pihak, stabilitas kawasan Timur Tengah akan memberikan dampak positif terhadap perdagangan global, harga energi, dan prospek pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia, termasuk Indonesia.