Garda Revolusi Iran Bentuk Sel Baru di Irak, Ini Targetnya

Jum'at, 19/06/2026 16:12 WIB

Baghdad, Jurnas.com - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan telah membentuk sel-sel rahasia baru di Irak untuk melancarkan serangan drone ke negara-negara Teluk yang menampung pasukan Amerika Serikat.

Langkah ini sengaja memotong jalur jaringan milisi yang sudah mapan guna menghindari deteksi intelijen, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Jumat (19/6).

Sebanyak tiga hingga empat sel rahasia, yang masing-masing beranggotakan sekitar 10 pejuang elite Syiah Irak, tercatat telah meluncurkan sedikitnya tujuh serangan drone dari wilayah gurun di dekat kota Basra dan Samawa untuk menyasar situs-situs di Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sepanjang akhir April hingga pertengahan Mei lalu.

Meskipun sejumlah anggotanya direkrut dari Perlawanan Islam di Irak, sebuah payung gerakan faksi Syiah garis keras, kelompok baru ini beroperasi sepenuhnya di luar struktur komando lokal dan melapor langsung kepada IRGC.

Perubahan taktik ini mencerminkan strategi baru Iran untuk tetap mempertahankan proyeksi kekuatannya di kawasan Timur Tengah, terutama di saat kelompok-kelompok proksinya mulai melemah akibat gempuran militer serta keterbatasan sumber daya ekonomi.

Pensiunan jenderal angkatan darat Irak sekaligus pakar kelompok bersenjata Syiah, Jasim Al-Bahadli, memberikan pandangannya mengenai karakteristik unit bentukan baru tersebut.

"Kelompok-kelompok baru yang dibentuk oleh IRGC ini tampak lebih kecil, lebih keras secara ideologis, dan dikendalikan dengan lebih ketat, mencerminkan kebutuhan Iran untuk menghemat sumber daya di tengah tekanan ekonomi," kata Jasim Al-Bahadli.

Langkah IRGC membentuk unit khusus di bawah kendali langsung ini juga dipicu oleh dinamika politik di Irak. Sejumlah faksi Syiah kuat seperti Asaib Ahl Al-Haq dan Brigade Imam Ali mulai menyatakan kesiapan mereka untuk melucuti senjata dan menyerahkannya kepada otoritas pemerintah, demi menghindari konflik berkepanjangan dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Situasi tersebut memaksa Tehran bergerak cepat mendirikan sel yang lebih loyal dan tertutup, guna mengamankan kepentingannya dari tekanan balik militer Amerika Serikat sejak eskalasi perang pecah pada akhir Februari lalu.

TERKINI
Awas Keliru, 7 Ini Bisa Bikin Wudhu Tidak Sah Benarkah Satu Gelas Alkohol Sehari Aman? Penelitian Terbaru Beri Jawaban Sempat Memerah, IHSG Berakhir Menguat Sore Ini Iran Bebaskan Biaya Melintas di Selat Hormuz 60 Hari