Kamis, 18/06/2026 03:03 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran bahwa Washington siap kembali melancarkan serangan militer jika Teheran tidak mematuhi ketentuan dalam kesepakatan perdamaian sementara yang baru saja dicapai kedua negara.
Pernyataan tegas itu disampaikan Trump saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis, Rabu (17/6) waktu setempat.
Dalam pertemuan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Trump menegaskan bahwa nota kesepahaman atau memorandum yang menjadi dasar penghentian konflik saat ini belum bersifat final.
Menurut Trump, Amerika Serikat tidak akan ragu mengambil tindakan militer apabila Iran dinilai melanggar komitmen yang telah disepakati.
Trump: AS Terbuka untuk Lanjutkan Serangan ke Iran
Donald Trump Bakal Undang PM Irak ke Gedung Putih Pertengahan Juli
Perjanjian dengan Iran Belum Dipublikasikan, Ini Kata Wakil Presiden AS
"Jika saya tidak menyukainya, kami akan kembali menembaki mereka dan menjatuhkan bom di atas kepala mereka," kata Trump kepada wartawan dikutip dari Antara pada Kamis (18/6).
Trump kembali menegaskan ancamannya dengan nada yang lebih keras.
"Jika mereka tidak berperilaku baik, kami akan langsung kembali menjatuhkan bom tepat di tengah-tengah kepala mereka," ujarnya.
Amerika Serikat dan Iran sebelumnya sepakat memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari.
Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan ruang bagi kedua negara menyelesaikan perundingan menuju kesepakatan damai permanen yang diharapkan mampu mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir empat bulan.
Kesepakatan awal itu juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia yang selama beberapa bulan terakhir menjadi salah satu titik ketegangan utama di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, Washington disebut akan mencabut blokade laut yang diberlakukan sejak April lalu terhadap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran.
Meski demikian, hingga saat ini baik pihak Amerika Serikat maupun Iran belum mengungkapkan secara rinci isi memorandum tersebut kepada publik.
Sejumlah media internasional melaporkan bahwa dokumen kesepakatan sementara itu dijadwalkan akan diformalkan dalam sebuah upacara resmi di Swiss pada Jumat mendatang.
Kesepakatan tersebut dipandang sebagai langkah penting untuk meredakan ketegangan yang sempat memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Namun, pernyataan terbaru Trump menunjukkan bahwa proses menuju perdamaian permanen masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait implementasi dan kepatuhan terhadap poin-poin yang telah disepakati.
Setelah rangkaian KTT G7 yang berlangsung selama tiga hari di kota resor Evian-les-Bains berakhir, Trump dijadwalkan menggelar konferensi pers untuk menjelaskan perkembangan terbaru terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran serta berbagai isu internasional lainnya.
Konflik antara Washington dan Teheran menjadi salah satu perhatian utama komunitas internasional karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah, keamanan jalur perdagangan global, hingga harga energi dunia.