Sabtu, 13/06/2026 19:45 WIB
New Delhi, Jurnas.com - Perdana Menteri India Narendra Modi bertolak menuju Eropa pada Sabtu (13/6), untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis.
Dalam forum ekonomi tersebut, India diproyeksikan akan menuntut jaminan kebebasan navigasi tanpa hambatan di Selat Hormuz, menyusul insiden serangan militer Amerika Serikat yang menewaskan tiga pelaut asal India.
Sebelum menghadiri KTT G7 yang digelar di Kota Evian, Prancis, Modi dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Prancis dan Slovakia untuk melangsungkan pertemuan bilateral.
Kehadiran Modi kali ini menandai partisipasi India yang ke-13 sebagai negara mitra dalam forum yang beranggotakan Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat tersebut.
Pakistan: AS dan Iran Sepakati Kerangka Perjanjian Damai
Eks Menhan Yakin AS Bisa Paksa Iran Buka Selat Hormuz
Iran Pastikan Selat Hormuz Tetap Dibuka, Tarif Transit Berlaku
Kunjungan diplomatik ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah tiga pelaut India tewas akibat serangan udara AS di dekat Selat Hormuz. Komando Sentral AS (CENTCOM) berdalih serangan tersebut terpaksa diluncurkan karena kapal tanker yang bersangkutan terdeteksi mencoba mengangkut pasokan minyak dari Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, menegaskan bahwa New Delhi akan memaparkan posisi serta sikap politiknya secara gamblang terkait situasi keamanan di Selat Hormuz dalam pertemuan G7 mendatang.
“Kami menginginkan dan telah mendesak agar ada navigasi yang bebas dari hambatan dan aman melalui Selat Hormuz sesuai dengan hukum internasional,” kata Jaiswal dikutip dari Arab News.
Jaiswal menambahkan bahwa perlindungan, kesejahteraan, serta keselamatan komunitas pelaut merupakan prioritas yang sangat krusial bagi pemerintah India.
Sektor maritim India mencatatkan lebih dari 320.000 warganya bekerja sebagai pelaut, menjadikannya kelompok pelaut terbesar kedua di dunia. Berdasarkan data dari Forward Seamen’s Union of India, setidaknya ada sekitar 20.000 pelaut India yang saat ini tengah bertugas di atas kapal-kapal komersial di kawasan Selat Hormuz.
Kedutaan Besar India di Oman bahkan melaporkan bahwa dalam kurun waktu pekan ini saja, sudah ada tiga kapal yang diawaki oleh kru asal India di kawasan Teluk yang menjadi sasaran serangan pasukan Amerika.
Modi, yang hingga kini belum memberikan pernyataan publik terkait tewasnya ketiga pelaut tersebut, juga dijadwalkan menggelar pertemuan empat mata dengan Presiden AS Donald Trump di sela-sela KTT G7 di tengah desakan kuat dari serikat pekerja agar pemerintah bersikap tegas mengutuk serangan tersebut.
Analis riset dari Takshashila Institution, Vanshika Saraf, menilai pertemuan ini menjadi momentum krusial bagi India untuk mengonfrontasi Trump secara langsung mengenai aturan pelibatan militer (rules of engagement).
India berhak menuntut kejelasan bagaimana AS akan menegakkan jalur blokade lautnya tanpa mengorbankan keselamatan para pelaut sipil India yang tidak bersenjata.
Saraf menambahkan bahwa KTT G7 yang dimulai pada hari Senin besok juga membuka peluang besar bagi India untuk berdialog dengan negara-negara sekutu di kawasan Teluk, mengingat Prancis turut mengundang Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Mesir dalam pertemuan tersebut.