Jum'at, 05/06/2026 13:01 WIB
Beirut, Jurnas.com - Kelompok pro-Palestina di Lebanon, Hizbullah, menolak pernyataan Amerika Serikat (AS) pasca perundingan terkait Lebanon, yang menyerukan penarikan seluruh pejuang Hizbullah dari wilayah selatan Sungai Litani, kata Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem.
Pada Kamis (4/6) malam, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat setelah putaran keempat perundingan Lebanon-Israel di Washington.
Gencatan senjata tersebut mensyaratkan penghentian penuh aksi militer oleh Hizbullah serta penarikan seluruh pejuangnya dari wilayah selatan Sungai Litani.
Sementara, Israel pada Kamis pagi mengumumkan akan melanjutkan operasi militer di zona penyangga di Lebanon selatan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan Washington.
Kerugian Perang Lebanon Capai 25 Miliar Dolar AS
Israel Caplok Situs Budaya Kastel Beaufort di Lebanon Selatan
56 Orang Tewas dalam Sehari Akibat Serangan Israel ke Lebanon
“Pernyataan itu bertujuan menghancurkan Lebanon, merusak stabilitasnya, dan memicu perselisihan sipil di antara rakyat Lebanon demi kepentingan Israel, sehingga Israel dapat mencapai secara politik apa yang tidak dapat dicapainya melalui perang,” kata Qassem, Kamis.
Qassem menegaskan bahwa menjadikan pelucutan senjata kelompok perlawanan Hizbullah sebagai titik awal setiap kesepakatan akan “menghilangkan kekuatan Lebanon” dan menimbulkan ancaman eksistensial bagi masyarakat yang mendukung perlawanan tersebut.
Menurutnya, Hizbullah tidak akan menerima formula yang, dengan dalih gencatan senjata, menuntut kelompok itu menarik diri dari Lebanon selatan sementara agresi Israel masih terus berlangsung.
Qassem mengatakan bahwa kelompoknya hanya tertarik pada penghentian menyeluruh agresi Israel, pemberlakuan gencatan senjata, serta penarikan pasukan Israel.
Ia menambahkan bahwa selama pendudukan masih berlangsung, perlawanan akan terus berlanjut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA