Kamis, 04/06/2026 15:29 WIB
Beirut, Jurnas.com - Seorang pasukan penjaga perdamaian UNIFIL tewas pada Kamis (4/6) dini hari setelah terkena serangan mortir di posisinya dekat Marjayoun di Lebanon selatan.
Misi PBB tersetbu menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pasukan penjaga perdamaian tersebut mengalami luka kritis akibat serangan tersebut, tanpa menyebutkan kewarganegaraan atau siapa yang bertanggung jawab atas serangan itu.
Dua pasukan penjaga perdamaian PBB lainnya terluka selama serangan mortir tersebut.
Sementara itu dilansir dari Aljazeera, Menteri Pertahanan Israel Katz mengatakan gencatan senjata dengan Lebanon memberi militer "kebebasan" untuk menyerang ibu kota Beirut jika Hizbullah menyerang komunitas Israel.
Iran Bakal Setop Negosiasi Jika Israel Masih Bombardir Lebanon
Ketua Parlemen Lebanon Sebut Hizbullah Siap Gencatan Senjata
Israel Caplok Situs Budaya Kastel Beaufort di Lebanon Selatan
"Pada tahap ini, (tentara) akan melanjutkan operasi tembak-menembak dan darat, tetap berada di zona keamanan di Lebanon hingga garis kuning – termasuk di wilayah Beaufort – dan tanpa pemulangan penduduk, sambil terus membongkar infrastruktur teroris di lapangan," kata Katz dalam sebuah pernyataan.
Pasukan Israel tetap memiliki “kebebasan bertindak, dengan dukungan Amerika, untuk menyerang di Beirut sebagai tanggapan atas tembakan terhadap komunitas dan wilayah Israel,” tambahnya.