Kamis, 04/06/2026 15:10 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp18.000 membuat Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar valas dengan intensitas yang lebih tinggi.
“Bank Indonesia terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Bank sentral juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.
“Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder,” tegas Destry.
Menteri PPPA: Kasus Kekerasan Seksual Tidak Boleh Ada Restorative Justice
Legislator PDIP Desak Kemenpar Ukur Daya Saing Pariwisata RI di ASEAN
6 Fase Perjalanan Manusia Setelah Hari Kiamat
Ia menambahkan koordinasi serta komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya juga terus dilakukan secara intensif.
Destry menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai.
Hal ini kemudian mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging.
Di samping itu, kebutuhan valas di domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN).
Menurut Destry, pelemahan rupiah secara umum masih sejalan dengan regional, dengan pelemahan secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd) -7,44 persen.
Di sisi lain, BI memastikan cadangan devisa tetap terjaga yakni berada pada level 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026.
Sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar, BI mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema local currency transaction (LCT).
Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
“Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS dibandingkan full year tahun lalu yang sekitar 25,7 miliar dolar AS,” kata Destry.
Keyword : Bank Indonesia Pelemahan Rupiah Dolar AS