Rabu, 03/06/2026 15:44 WIB
Jenewa, Jurnas.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, mengusulkan tiga opsi untuk mengakhiri konflik antara militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon dan Israel, yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Hal ini disampaikan ketika misi perdamaian PBB yang beranggotakan 8.100 orang di Lebanon selatan berakhir pada 31 Desember mendatang, sebagaimana dikutip dari Associated Press pada Rabu (6/3).
Semua opsi yang diajukan Guterres yakni melanjutkan pemantauan militer PBB di perbatasan antara Israel dan Lebanon, mendukung pasukan Lebanon dalam penempatan di seluruh negeri, dan memperkuat upaya politik untuk mengakhiri pertempuran, yang terus berlanjut meskipun ada gencatan senjata.
Sejauh ini, pasukan perdamaian PBB memainkan peran penting dalam memantau situasi keamanan di Lebanon selatan, benteng Hizbullah, selama beberapa dekade. Enam dari pasukan perdamaian tewas dalam beberapa bulan terakhir oleh serangan Israel.
Lebanon Kecam Serangan Militer Israel Dekat Situs UNESCO
Luncurkan Serangan Baru, Israel Perluas Zona Tempur di Lebanon
Serangan Israel Tewaskan Dua Orang di Lebanon Selatan
Menanggapi tuntutan dari Amerika Serikat (AS) dan sekutu dekatnya, Israel, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat memutuskan pada Agustus 2025 untuk mengakhiri misi perdamaian yang dikenal sebagai UNFIL, dan meminta Guterres untuk menyampaikan opsi penerapan resolusi 2006 yang mengakhiri perang selama sebulan antara Israel dan Hizbullah.
Resolusi tersebut menuntut agar Hizbullah melucuti senjata, pasukan Israel menarik diri, dan tentara Lebanon dikerahkan di seluruh negeri sebagai satu-satunya kekuatan militer. Namun, tidak satu pun dari hal ini terjadi.
Dalam suratnya kepada Dewan Keamanan pada Senin lalu, Guterres mengatakan bahwa permusuhan yang berulang antara Israel dan Hizbullah menunjukkan pentingnya implementasi resolusi 2006, yang merupakan kerangka kerja menuju perdamaian.
Sekretaris Jenderal mengatakan bahwa pemantauan militer PBB terhadap perbatasan yang ditarik PBB antara Israel dan Lebanon, yang dikenal sebagai Garis Biru, merupakan hal yang sangat penting.
"Kehadiran pasukan PBB berseragam yang bekerja untuk memfasilitasi de-eskalasi, dialog, penghubungan dan koordinasi, serta dukungan untuk Angkatan Bersenjata Lebanon akan diperlukan." kata Guterres.
Guterres mengusulkan tiga opsi untuk pasukan militer PBB, mulai dari 5.525 hingga 1.980 personel, termasuk beberapa pengamat militer tanpa senjata. Dia mengatakan bahwa pasukan terbesar akan mampu mengamati perkembangan di sepanjang Garis Biru.