Sabtu, 30/05/2026 09:01 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 20 hektare di Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.
Masuk hari ketiga operasi pemadaman, satu regu Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Sumatera IV Pekanbaru masih berjibaku di garda terdepan untuk menjinakkan amukan si jago merah yang membakar di Desa Pecing Bekulo, Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.
Ia menjelaskan, medan yang berat dan tiupan angin kencang tidak menyurutkan komitmen Manggala Agni untuk memutus perambatan api agar tidak semakin meluas dan merusak ekosistem hutan lebih dalam.
Kemenhut Tahan Tersangka Penyelundup 3 Ton Sisik Trenggiling Tujuan Kamboja
Selamat! Tiga Anak Harimau Beggala Lahir di TSI Prigen, Kemenhut Apresiasi
Kemenhut Investigasi Temuan Harimau Sumatera Mati di Mukomuko
"Fokus kami hari ini adalah melanjutkan pemadaman dan melakukan penyekatan agar api terlokalisir, tim Manggala Agni di darat saat ini dibantu juga dengan water bombing dari satgas Udara,” ujar Ferdian dalam siaran pers Kemenhut.
Sementara itu, satu regu Manggala Agni Daops Sumatera III Labuhanbatu melaksanakan perbantuan pemadaman Karhutla di Desa Pasir Limau Kapas, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir.
Perbantuan pemadaman dilakukan sebagai bentuk respons cepat terhadap munculnya titik api yang berpotensi meluas dan mengganggu lingkungan serta aktivitas masyarakat sekitar. Personel Manggala Agni bersama tim gabungan turun langsung ke lokasi untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali menyala.
Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera juga mengerahkan dua tim Manggala Agni Daops Sumatera VII Rengat untuk melakukan pemadaman Karhutla di Desa Sokoi Kecamatan Kuala Kampar dan Pulau Mendol Kabupaten Pelalawan.
Langkah taktis ini diambil menyusul terdeteksinya titik api di dua lokasi rawan tersebut. Kedua wilayah pesisir ini dikenal memiliki karakteristik lahan gambut dalam, yang sangat rentan memicu kebakaran hebat di musim kemarau.
"Kami langsung membagi kekuatan. Dua tim penuh telah diberangkatkan menuju Desa Sokoi dan Pulau Mendol, estimasi sekitar 8 jam dengan menggunakan transportasi darat dan air untuk sampai di lokasi kebakaran. Fokus utama saat ini adalah melakukan lokalisir garis api agar tidak meluas ke area perkebunan warga," kata Ferdian.
Dalam pelaksanaan kegiatan, tim menghadapi kondisi lapangan yang cukup menantang, seperti cuaca panas dan akses menuju lokasi yang sulit dijangkau. Namun demikian, upaya pemadaman tetap dilakukan secara maksimal dengan mengedepankan keselamatan personel serta efektivitas penanganan di lapangan.
Sementara itu, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tingkat kemudahan menyalanya bahan bakar ringan atau serasah pada lapisan atas permukaan (Fine Fuel Moisture Code/FFMC) di Provinsi Riau menunjukkan kategori ekstrim yang artinya sangat mudah terbakar. Tidak hanya di wilayah Riau, FMCC di sejumlah wilayah di Sumatera juga masuk kategori ekstrim.
“Nilai FFMC di sejumlah wilayah Sumatera menunjukkan kondisi ekstrem, yang menandakan kondisi sangat kering dan mudah terbakar. Situasi ini meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan secara cepat, sehingga diperlukan kewaspadaan dan langkah pencegahan maksimal dari seluruh pihak," ujarnya.
"Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran di wilayah sekitar,” pungkas Ferdian.