Selasa, 26/05/2026 21:59 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) menjalin kerja sama strategis dengan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (SURGE) untuk mempercepat transformasi digital perguruan tinggi swasta (PTS) di tanah air.
Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), kedua pihak sepakat membangun ekosistem digital pendidikan tinggi terintegrasi yang mencakup konektivitas internet, platform pembelajaran digital, hingga sistem berbasis Artificial Intelligence (AI).
Langkah ini memiliki cakupan nasional yang sangat luas mengingat APTISI saat ini menaungi 4.095 PTS di berbagai wilayah Indonesia.
Penandatanganan kerja sama ini berlangsung di Auditorium Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Senayan, Jakarta, dan dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Brian Yuliarto.
Dies Natalis ke-2, Unibang Fokus Peningkatan Kualitas SDM
Rektor Unibang: Mahasiswa Harus Kuasai AI dan Bahasa Inggris
Sikap Positif terhadap Sawit Dapat Dimulai dari Pendidikan
“Transformasi digital merupakan fondasi penting untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi, memperluas akses, serta memperkuat relevansi perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan nasional,” ujar Brian Yuliarto.
Penguatan infrastruktur teknologi ini dinilai sudah menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda lagi demi mendongkrak kualitas serta jangkauan pendidikan nasional. Ketua Umum APTISI Pusat, Muhammad Budi Djatmiko, menegaskan bahwa peran perguruan tinggi swasta sangat krusial dalam menentukan keberhasilan pembenahan pendidikan di Indonesia.
“Jika Indonesia ingin meningkatkan Angka Partisipasi Kasar pendidikan tinggi secara signifikan, maka PTS harus diperkuat. Tidak mungkin APK pendidikan tinggi naik secara nasional tanpa melibatkan perguruan tinggi swasta,” kata Muhammad Budi Djatmiko.
APTISI memproyeksikan target peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi menuju 40 persen pada 2029 akan lebih realistis dicapai melalui digitalisasi massal. Penerapan pembelajaran jarak jauh, blended learning, dan platform akademik berbasis AI yang merata hingga ke daerah menjadi kunci utama untuk mengejar target tersebut.
Di sisi lain, keterbatasan komunikasi dan infrastruktur digital selama ini memang menjadi kendala besar dalam menghubungkan civitas akademika, terutama yang berada di daerah. Wakil Ketua APTISI, Paristiyanti Nurwardani, menjelaskan bahwa kehadiran jaringan dari SURGE menjadi solusi konkret untuk membangun integrasi data yang menyeluruh.
“Selama ini kami tidak bisa reach dosen dan mahasiswa di seluruh Indonesia karena keterbatasan komunikasi. Dengan PT SURGE memberikan internet gratis di perguruan tinggi swasta, sekarang kita menjadi one single database untuk APTISI,” ujar Paristiyanti Nurwardani.
Konsep basis data tunggal tersebut memungkinkan ribuan PTS saling terhubung dalam satu ekosistem digital untuk mendukung kegiatan pembelajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, penjaminan mutu, hingga pelatihan kepemimpinan.
Integrasi ini juga membuka peluang besar bagi kampus-kampus untuk saling berbagi sumber daya akademik. Sebagai contoh, dosen dari satu perguruan tinggi nantinya dapat menjadi referensi pengajaran bagi kampus lain melalui platform digital nasional ini.
Selain fokus pada sistem pembelajaran, kolaborasi ini turut meluncurkan program Sekolah Kepemimpinan untuk PTS. Program ini dirancang khusus untuk memperkuat tata kelola kepemimpinan dari tingkat ketua program studi, dekan, hingga rektor.
Secara teknis, implementasi kerja sama ini akan memanfaatkan infrastruktur teknologi canggih milik SURGE. Layanan yang digunakan meliputi fixed broadband dari IRA (Internet Rakyat) berbasis 5G Fixed Wireless Access (FWA) serta layanan Starlite berbasis Fiber-To-The-Home (FTTH) yang dikelola melalui anak usaha SURGE, PT Integrasi Jaringan Ekosistem. Kombinasi teknologi ini diyakini mampu memperluas jangkauan internet kampus secara fleksibel, efisien, dan menyentuh berbagai pelosok.
Sektor pendidikan dinilai menjadi prioritas utama yang harus mendapatkan pemerataan akses digital. Direktur Utama SURGE, Yune Marketatmo, menegaskan komitmen penuh perusahaannya dalam mendukung penyediaan teknologi penunjang pendidikan ini.
“Melalui kolaborasi strategis bersama APTISI, SURGE berkomitmen membuka akses konektivitas digital yang lebih luas, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan mempercepat pemerataan pendidikan berbasis teknologi di seluruh Indonesia,” ujar Yune Marketatmo.
Untuk memperluas sosialisasi dan memastikan implementasi program berjalan lancar di berbagai daerah, kolaborasi ini juga memperkuat sinergi dengan PT Pos Indonesia dan jaringan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Acara penandatanganan ini juga dihadiri Hashim S. Djojohadikusumo yang menyampaikan orasi ilmiah bertajuk `Transformasi Digital Pendidikan Tinggi: Pilar Utama Peningkatan Mutu, Pemerataan Akses, dan APK Menuju 40 Persen`. Dalam paparannya, Hashim menekankan bahwa ketersediaan internet berkecepatan tinggi merupakan fondasi utama untuk menciptakan keadilan pendidikan, terutama bagi mahasiswa di daerah yang selama ini masih terisolasi secara digital.
Melalui sinergi ini, APTISI dan SURGE berharap seluruh ekosistem perguruan tinggi swasta di Indonesia segera memiliki akses teknologi yang modern dan merata. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas tata kelola akademik berbasis data, tetapi juga mendongkrak daya saing bangsa di tingkat regional.