Rabu, 13/05/2026 14:35 WIB
Manila, Jurnas.com - Mantan Kepala Polisi sekaligus Senator Filipina, Ronald `Bato` Dela Rosa, mendesak militer dan rekan-rekannya di akademi militer untuk menghentikan upaya pemerintah menangkapnya.
Dela Rosa kini sedang diburu oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan, terkait perannya dalam perang narkoba berdarah era Presiden Rodrigo Duterte.
Hingga Rabu (13/5), Dela Rosa sudah tiga hari bersembunyi di dalam gedung Senat di Manila. Kepemimpinan Senat yang baru saat ini menolak memberikan akses kepada pemerintah untuk mengeksekusi surat perintah penangkapan dari ICC yang bermarkas di Den Haag, Belanda.
“Saya tidak meminta dukungan kekerasan. Saya meminta dukungan damai,” ujar Dela Rosa dikutip dari AFP.
Dia mendesak rekan-rekannya di militer untuk menyatakan sikap agar pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos tidak menyerahkan dirinya kepada pihak asing.
Dela Rosa, yang menjabat sebagai Kepala Polisi pada 2016-2018, dituduh sebagai arsitek utama operasi pemberantasan narkoba yang menewaskan ribuan orang, yang mayoritas adalah pengguna dan pengedar kelas teri.
Nasib Dela Rosa kini terancam menyusul jejak mantan atasannya, Rodrigo Duterte, yang telah ditangkap pada Maret tahun lalu dan kini sedang ditahan di Den Haag menunggu persidangan.
Di luar kompleks Senat, situasi memanas ketika sekitar 500 polisi antihuru-hara berhadapan dengan 250 pengunjuk rasa yang menuntut agar Dela Rosa segera ditangkap dan diserahkan ke ICC. Massa menyebut Dela Rosa harus bertanggung jawab atas nyawa yang hilang selama masa jabatannya.