Kamis, 07/05/2026 18:30 WIB
Sydney, Jurnas.com - Sekelompok perempuan yang terkait dengan teroris ISIS menghadapi ancaman penangkapan, tak lama setelah mendarat di Australia pada Kamis (7/5).
Kepulangan mereka menandai berakhirnya masa penantian bertahun-tahun di kamp pengungsian Suriah, setelah sebelumnya diduga menyelinap masuk ke negara tersebut untuk bergabung dengan kekhalifahan bentukan kelompok ekstremis.
Sebanyak empat wanita dan sembilan anak-anak warga negara Australia tiba setelah berhasil mengamankan jalur kepulangan dari kamp pengungsian. Media lokal melaporkan bahwa mereka akan mendarat di kota besar Melbourne dan Sydney usai menempuh penerbangan dari ibu kota Qatar, Doha.
Pihak kepolisian telah menyatakan bahwa beberapa dari wanita yang kembali ini akan didakwa dengan pelanggaran terorisme, termasuk bepergian ke wilayah terlarang dan keterlibatan dalam perdagangan budak.
“Untuk alasan operasional, saya tidak akan merinci siapa saja yang mungkin ditangkap, namun jelas kami bekerja sama sangat erat dengan otoritas persemakmuran,” ujar Komisaris Polisi Negara Bagian New South Wales, Mal Lanyon, dikutip dari AFP.
Fenomena ini bermula pada awal 2010-an ketika ratusan wanita dari negara-negara Barat terpikat untuk pergi ke Timur Tengah seiring menguatnya pengaruh ISIS, dan banyak di antaranya mengikuti suami yang mendaftar sebagai pejuang jihadis.
Hingga saat ini, berbagai egara seperti Australia, Kanada, dan Inggris masih terus bergulat dengan cara menangani warga negara mereka yang terdampar setelah kelompok tersebut hancur.
Kasus ini memicu perdebatan sengit di Australia. Komisi Hak Asasi Manusia Australia mendesak pemerintah untuk memulangkan warganya dari kamp pengungsian Roj yang terkenal kejam di Suriah, namun pihak lain menuduh para wanita tersebut telah memunggungi Australia dan harus menghadapi konsekuensi atas pilihannya.
“(Mereka) membuat pilihan mengerikan untuk bergabung dengan organisasi teroris yang berbahaya,” kata Menteri Dalam Negeri Tony Burke.
Kepulangan kali ini bukanlah yang pertama bagi warga negara Australia dari kamp pengungsian di Suriah. Sebelumnya, kelompok-kelompok kecil wanita dan anak-anak telah diterbangkan kembali ke Australia pada tahun 2019, 2022, dan 2025 sebagai bagian dari proses repatriasi yang dilakukan secara bertahap oleh pemerintah.