Kamis, 07/05/2026 18:03 WIB
Kairo, Jurnas.com - Seorang putra dari negosiator utama Hamas dalam perundingan yang dimediasi Amerika Serikat dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel.
Azzam Al-Hayya, putra dari Khalil Al-Hayya, mengembuskan napas terakhir pada hari Kamis (7/5) setelah mengalami luka parah akibat serangan yang terjadi pada Rabu malam. Kabar
duka ini dikonfirmasi oleh pejabat senior Hamas, Basim Naim, di tengah upaya para pemimpin kelompok tersebut melakukan pembicaraan di Kairo guna menjaga gencatan senjata yang kian rapuh.
Azzam merupakan putra keempat Khalil Al-Hayya yang tewas dalam rangkaian serangan Israel selama bertahun-tahun. Khalil Al-Hayya yang memiliki tujuh anak, tercatat telah berulang kali selamat dari upaya pembunuhan oleh militer Israel.
Israel Sengaja Batasi Bantuan agar Rakyat Gaza Kelaparan
Penyiksaan Berlanjut, Israel Perpanjang Penahanan Dua Aktivis Gaza
Bengis! Israel Tutup Akses Air untuk Hukum Rakyat Gaza
Serangkaian serangan termasuk di Doha tahun lalu serta serangan di Gaza pada 2008 dan 2014 yang merenggut nyawa dua putranya yang lain. Menanggapi eskalasi kekerasan ini, Khalil Al-Hayya menuduh Israel sengaja merusak upaya mediasi internasional.
"Serangan dan pelanggaran Zionis ini dengan jelas menunjukkan bahwa pendudukan tidak ingin mematuhi gencatan senjata atau tahap pertama,” ujar Khalil Al-Hayya dalam wawancara dengan Al Jazeera, dikutip dari Arab News.
Kekerasan terbaru terjadi saat Hamas dan faksi Palestina lainnya sedang bertemu dengan utusan khusus `Board of Peace` pimpinan Nickolay Mladenov, untuk membahas kelanjutan rencana perdamaian Gaza yang diusung Presiden AS Donald Trump.
Rencana perdamaian Trump, yang disepakati secara prinsip pada Oktober lalu, mencakup penarikan pasukan Israel dari Gaza dan dimulainya rekonstruksi wilayah tersebut dengan syarat Hamas meletakkan senjata.
Namun, poin pelucutan senjata Hamas menjadi hambatan utama dalam perundingan. Hamas menegaskan kepada mediator bahwa mereka tidak akan membahas tahap kedua sebelum Israel menyelesaikan kewajiban dari tahap pertama, termasuk penghentian total seluruh serangan militer.
Meski gencatan senjata telah berlaku secara teknis, data medis lokal mencatat sedikitnya 830 warga Palestina tewas dalam berbagai insiden sejak kesepakatan tersebut dimulai.
Di sisi lain, militer Israel berdalih bahwa serangan udara yang mereka lancarkan bertujuan untuk menggagalkan upaya militan Palestina yang mencoba menyerang pasukan mereka.