Selasa, 05/05/2026 23:48 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah penelitian internasional mengungkap pola mengejutkan yang berlaku di seluruh bentuk kehidupan di Bumi.
Temuan ini menunjukkan bahwa suhu tidak hanya memengaruhi organisme secara individual, tetapi mengikuti satu pola matematis universal yang sama dari mikroorganisme hingga hewan besar.
Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan dari Spanyol, Prancis, dan Irlandia menemukan adanya satu “kurva panas” yang disebut Universal Thermal Performance Curve (UTPC). Kurva ini menggambarkan bagaimana kinerja biologis semua makhluk hidup berubah seiring kenaikan suhu.
Dikutip dari Earth, studi ini menganalisis lebih dari 30.000 data performa biologis dari sekitar 2.700 spesies, mulai dari bakteri, plankton, tumbuhan, ikan, reptil, burung, hingga mamalia.
Jika Manusia Punah, Makhluk Ini Diprediksi Bisa Kuasai Bumi Menurut Ilmuwan
Ilmuwan Temukan "Makhluk Hidup" Baru di Dalam Tubuh Manusia
Ini Alasan Mengapa Paparan Radioaktif Sangat Berbahaya bagi Makhluk Hidup
Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun bentuk kehidupan sangat beragam, respons mereka terhadap suhu ternyata bisa “disatukan” dalam satu pola matematika yang sama.
Peneliti utama, Ignacio Peralta-Maraver dari University of Granada, mengatakan bahwa model ini bisa menjadi standar baru dalam ekologi dan fisiologi terkait pemanasan global.
Kurva tersebut menunjukkan pola sederhana namun penting bahwa performa biologis meningkat seiring kenaikan suhu hingga mencapai titik optimal.
Setelah melewati titik itu, sedikit kenaikan suhu justru menyebabkan penurunan drastis pada fungsi biologis, bahkan bisa berujung pada kegagalan atau kematian.
Para peneliti menyebut pola ini sebagai bentuk exponential scaling, di mana aktivitas biologis meningkat cepat pada suhu tertentu sebelum akhirnya jatuh tajam.
Selama puluhan tahun, biologi evolusi menganggap bahwa spesies dapat beradaptasi hampir tanpa batas terhadap perubahan lingkungan. Namun temuan ini menunjukkan adanya batas fisiologis yang berlaku universal.
Artinya, meskipun evolusi tetap terjadi, setiap organisme tetap tunduk pada “kurva panas” yang sama.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa banyak spesies sudah berada dekat dengan batas toleransi panasnya, terutama di wilayah tropis yang suhunya relatif stabil.
Bahkan kenaikan sekitar 2°F (sekitar 1°C lebih dari era pra-industri) sudah cukup memberi tekanan besar pada banyak ekosistem.
Spesies di daerah dengan variasi suhu rendah diketahui memiliki rentang toleransi panas yang sempit, sehingga lebih rentan terhadap pemanasan global.
Dengan adanya kurva universal ini, ilmuwan kini memiliki alat baru untuk memprediksi dampak perubahan iklim secara lebih luas—dari tingkat sel hingga ekosistem.
Model ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi spesies atau habitat yang paling berisiko jika suhu terus meningkat, sekaligus membantu perencanaan konservasi.
Meski temuan ini tampak menantang pemahaman lama tentang evolusi, para peneliti menegaskan bahwa ini bukan penyangkalan terhadap evolusi, melainkan penegasan bahwa semua kehidupan berbagi batas fisik yang sama terhadap panas. (*)
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences. SUmber: Earth