Minggu, 03/05/2026 16:35 WIB
Beijing, Jurnas.com - Hubungan China dan Filipina di Laut China kembali memanas. Kali ini, Beijing menuduh Manila mendaratkan personel di terumbu karang yang dipersengketakan di Laut China Selatan pada Minggu (3/5).
Di saat yang sama, Manila menyatakan akan mengerahkan kapal-kapal untuk mengusir kapal-kapal China yang dianggap melakukan penelitian ilegal di wilayah tersebut.
Ketegangan terbaru ini berpusat di Sandy Cay, sebuah pulau pasir yang tidak berpenghuni di Laut China Selatan, sebagaimana dikutip dari Reuters pada.
Penjaga Pantai China menyatakan telah mengidentifikasi lima personel Filipina yang mendarat di Sandy Cay, tindakan yang oleh Beijing disebut sebagai aktivitas "ilegal". Hal ini dilaporkan oleh media pemerintah China, Global Times.
Ketegangan LCS Mereda, Filipina Siap Jajaki Kerja Sama dengan China
Jika Amerika Tutup LCS, China Siap "Perang"
China Lega Sengketa Laut Tak Dibahas di Pertemuan ASEAN
"Penjaga Pantai China mengidentifikasi lima personel Filipina yang mendarat di Sandy Cay, sebuah tindakan yang disebut Beijing sebagai `ilegal`," demikian bunyi laporan tersebut.
Perselisihan ini merupakan kelanjutan dari insiden pekan lalu, ketika Manila mengirim penjaga pantainya ke Sandy Cay setelah muncul laporan media yang memperlihatkan personel Penjaga Pantai China tiba di lokasi tersebut sambil mengibarkan bendera China.
Filipina mengecam kehadiran kapal-kapal China yang dianggap melakukan riset tanpa izin di perairan mereka. Juru bicara Penjaga Pantai Filipina menyatakan mereka siap bertindak tegas atau pelanggaran peraian.
"Manila telah mengidentifikasi empat kapal China yang melakukan penelitian ilegal di perairannya dan mengancam akan mengerahkan pesawat serta kapal untuk memaksa mereka pergi," ujar pemerintah.
Hubungan antara kedua negara terus menegang karena Beijing mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh wilayah Laut China Selatan. Filipina, sebagai sekutu Amerika Serikat, terus menentang klaim tersebut di tengah meningkatnya aktivitas militer dan riset di jalur perairan vital itu.
Hingga berita ini diturunkan, baik Kementerian Luar Negeri China maupun Kedutaan Besar Filipina di Beijing belum memberikan tanggapan resmi lebih lanjut.