Kebakaran TPA di Filipina Belum Berhenti, Ratusan Orang Mengungsi

Kamis, 30/04/2026 21:20 WIB

Manila, Jurnas.com - Petugas feri Filipina, Dave Delos Reyes, rutin membagikan masker N95 selama hampir tiga minggu terakhir, guna melindungi penumpang kapal dari kepulan asap tebal yang menyelimuti sebagian wilayah Manila Bay.

Asap tersebut berasal dari kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Navotas yang telah berlangsung berlarut-larut selama hampir sebulan.

Kebakaran ini hampir tidak terlihat oleh mata telanjang karena proses pembakaran terjadi hingga kedalaman 15 meter di bawah permukaan sampah. Fenomena ini melepaskan campuran gas beracun berupa metana serta karbon dioksida ke udara.

Hampir 500 orang yang tinggal di pulau-pulau dekat lokasi telah dievakuasi ke pusat kota Obando, sekitar 2,5 km dari lokasi. Namun, jarak tersebut dianggap belum cukup jauh untuk benar-benar terbebas dari asap.

“Sejujurnya, terkadang baunya begitu kuat hingga masih bisa menembus masker N95. Itu membuat tenggorokan dan kepala kami sakit,” ujar Delos Reyes menurut laporan AFP pada Kamis (30/4).

Pada puncaknya, asap dari kebakaran bawah tanah ini memengaruhi kualitas udara di seluruh Metro Manila. Pemantau lokal sempat mencatat tingkat polusi pada kategori "sangat tidak sehat" di beberapa wilayah.

Meski data dari Badan Antariksa Filipina menunjukkan kualitas udara mulai berangsur normal, warga di Obando masih merasakan dampak buruknya. Monica Verses (62), seorang pemilik toko kelontong, mengaku dadanya terasa sesak dan sering batuk setiap kali asap menyelimuti tokonya.

Sebagai informasi, lembaga penanggulangan bencana pemerintah AS telah mengaitkan emisi dari kebakaran TPA dengan risiko kanker, kerusakan hati, ruam kulit, hingga gangguan reproduksi.

Juru bicara biro pemadam kebakaran Manila, Inspektur Anthony Arroyo, menjelaskan bahwa kebakaran di Navotas memberikan tantangan yang berbeda dibanding kebakaran di permukaan.

"Ini bukan kebakaran biasa dengan pembakaran di permukaan atau kobaran api. Ada lapisan sampah di area pegunungan, dan di bawahnya terdapat gas metana," ujar Arroyo.

Kebakaran bawah tanah sering kali terjadi secara spontan saat materi organik membusuk dan menciptakan panas, yang kemudian dipicu oleh oksigen yang menyelinap melalui retakan sampah.

Petugas tidak menggunakan metode penyiraman air karena berisiko merusak lapisan pelindung (liner) TPA yang mencegah bahan kimia merembes ke air tanah. Sebagai gantinya, petugas menutupi lokasi tersebut inci demi inci dengan tanah yang dikeruk dari lokasi terdekat.

Hingga saat ini, sekitar 50 persen area yang terdampak telah tertutup tanah. Namun, pekerjaan berlangsung lambat karena alat berat tidak dapat digunakan di beberapa bagian TPA yang dinding sampahnya terlalu miring.

TERKINI
Kurban dengan Kambing atau Sapi Betina, Bolehkah? Digitalisasi Pembelajaran Jangkau 3.334 Satuan Pendidikan di Tulang Bawang Ini Sejarah Haji dalam Islam, Muslim Wajib Tahu Diperingati Setiap 1 Mei, Ini Sejarah dan Makna Hari Cinta Sedunia