Rabu, 22/04/2026 11:30 WIB
California, Jurnas.com - Dewan sekolah di Los Angeles, Amerika Serikat resmi mengesahkan kebijakan yang mengatur batasan waktu layar (screen time) siswa selama pembelajaran di kelas.
Langkah ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran bahwa ketergantungan pada teknologi berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas dan depresi.
Dewan sekolah dari distrik terbesar kedua di AS ini menyetujui kebijakan tersebut dengan hasil pemungutan suara 6-0. Keputusan ini menjadikan Distrik Sekolah Terpadu Los Angeles (LAUSD) sebagai salah satu yang pertama di AS yang menetapkan batasan waktu layar secara sistematis berdasarkan tingkatan kelas.
"Bersamaan dengan larangan ponsel yang disahkan LAUSD pada tahun 2024, kami berharap dapat menjadi pemimpin nasional dalam masalah ini," kata Nick Melvoin, anggota dewan yang mensponsori kebijakan tersebut sebagaimana dikutip dari Reuters pada Rabu (22/4).
Para pendukung kebijakan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara kebutuhan instruksional digital dan perlindungan terhadap perkembangan sosial serta fokus siswa. Sebab sejak pandemi 2020, distrik yang melayani sekitar setengah juta siswa ini sangat bergantung pada laptop dan tablet untuk proses pembelajaran.
"Meskipun akses dan pengembangan keterampilan teknologi sangat penting di dunia digital, waktu layar yang berlebihan dapat dikaitkan dengan masalah penglihatan, peningkatan kecemasan dan depresi, perilaku adiktif, berkurangnya rentang perhatian, kesulitan mengelola emosi, prestasi akademik yang lebih rendah, dan kognisi yang lebih lemah," demikian peringatan yang disampaikan American Academy of Pediatrics.
Kebijakan ini juga merujuk pada penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak usia 8 hingga 11 tahun yang melampaui rekomendasi waktu layar memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi dan skor penilaian kognitif yang lebih rendah.
Perlu dicatat bahwa resolusi ini tidak langsung melarang perangkat secara total atau menetapkan batas waktu seragam secara instan. Sebaliknya, dewan menginstruksikan staf distrik untuk mengembangkan panduan yang sesuai dengan usia siswa dengan masukan dari pendidik, keluarga, dan pakar kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, beberapa pihak mengingatkan agar implementasi aturan ini dilakukan secara hati-hati agar tidak merugikan siswa penyandang disabilitas yang sangat bergantung pada teknologi bantuan untuk belajar. Hingga panduan baru selesai disusun, aturan di tingkat sekolah yang sudah ada tetap diberlakukan.