Beralih ke Ponsel Jadul Jadi Tren Baru di AS, Wajib Diikuti!

Rabu, 22/04/2026 11:10 WIB

Washington, Jurnas.com - Bepergian tanpa bantuan Google Maps, berhenti menggulir Instagram di halte bus, hingga melepas headphone demi mendengarkan kicauan burung. Pemandangan unik ini mulai jamak terlihat di ibu kota Amerika Serikat seiring munculnya gerakan detoks digital di kalangan generasi muda.

Sepanjang Maret, sekelompok pemuda berusia 20 hingga 30-an tahun di Washington mengikuti tantangan `Month Offline`. Mereka beralih dari ponsel pintar ke ponsel lipat jadul untuk membebaskan diri dari kecanduan media sosial.

Gerakan ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran dampak negatif teknologi terhadap rentang perhatian dan kesehatan mental, sebagaimana laporan AFP pada Rabu (22/4).

Jay West (29), seorang analis data, menceritakan pengalamannya saat menunggu bus tanpa tahu kapan kendaraan itu akan tiba. Meski sempat merasa canggung, dia merasa proses tersebut sangat membebaskan.

"Kadang-kadang saya merasa bosan, dan itu tidak apa-apa. Merasa bosan itu wajar," kenang West dalam sebuah sesi berbagi di kebun komunitas.

Para peserta detoks ini harus memutar otak untuk menjalani aktivitas sehari-hari tanpa bantuan aplikasi modern. Misalnya, bertanya arah kepada orang asing di jalan, membongkar kembali koleksi CD untuk mendengarkan musik tanpa Spotify, hingga memangkas waktu layar (screen time) harian.

Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa kecanduan ponsel terkait dengan gangguan tidur dan kecemasan. Bahkan, pada akhir Maret, pengadilan di California memutuskan bahwa Instagram dan YouTube bertanggung jawab atas sifat adiktif platform mereka.

Dr. Kostadin Kushlev, peneliti psikologi dari Georgetown University, menyatakan bahwa hidup tanpa smartphone meskipun hanya beberapa minggu dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemampuan mempertahankan perhatian.

Salah satu penyelenggara program, Josh Morin, menekankan bahwa sekadar membuang ponsel tidaklah cukup. Menurutnya, alternatif kehidupan sosial yang memperkaya komunitas sangatlah vital. Programnya mencakup sesi diskusi mingguan di bar karaoke untuk menjaga interaksi nyata antarpeserta.

Inisiatif `Month Offline` ini diluncurkan setahun lalu oleh Dumb.co dengan biaya sekitar US$100. Peserta mendapatkan pinjaman ponsel lipat yang hanya dibekali fungsi dasar seperti telepon, SMS, dan Uber yang disinkronkan dengan perangkat asli mereka.

Dr. Graham Burnett, profesor sejarah di Princeton University, melihat fenomena ini sebagai "fajar dari gerakan otentik," serupa dengan lahirnya gerakan lingkungan pada 1960-an. Kendall Schrohe (23), salah satu alumni program, kini bahkan telah menghapus Instagram secara permanen dan mendirikan grup "digital sobriety" miliknya sendiri.

"Saya melihatnya dengan kacamata optimis, dan saya merasa kita benar-benar berada di awal dari sesuatu yang besar," ujar Schrohe.

TERKINI
Legislator PKB Harapkan Apple Perluas Investasi di Indonesia Napi yang Singgah di Kedai Kopi Dipindahkan ke Nusakambangan KPK Duga Polisi hingga Jaksa Terima `THR` dari Bupati Rejang Lebong Legislator PKB: Tata Kelola Pupuk Bersubsidi Harus Dirombak Total