Selasa, 21/04/2026 16:30 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Menjelang kedatangan jemaah haji Indonesia, kualitas konsumsi menjadi prioritas utama. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bersama tim pengawas dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung memastikan seluruh proses penyediaan makanan berlangsung aman, higienis, dan bergizi.
Perwakilan tim pengawas Poltekpar NHI Bandung, Nova MH, menegaskan bahwa standar operasional prosedur (SOP) diterapkan secara ketat tanpa pengecualian. Pengawasan dilakukan dalam tiga tahap krusial: pra-produksi, proses memasak, hingga distribusi ke hotel tempat jemaah menginap.
“Pengecekan rutin dilakukan tiga kali sehari mengikuti jadwal makan jemaah,” ujarnya di Madinah, Minggu (19/04).
Ia menjelaskan, tim pengawas telah bekerja sejak dini hari untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga. Untuk makan pagi, pengawasan dimulai sejak pukul 00.00 hingga 04.00 saat proses memasak berlangsung. Sementara untuk makan siang, pengawasan dilakukan sejak pagi hari.
Rukun Haji yang Tidak Boleh Dilewatkan, Apa Saja?
DPR Kawal Pelaksanaan Haji 2026 Hingga Kasus Kekerasan Seksual
Menhaj Usulkan Kenaikan Biaya Penerbangan Haji Jadi Rp8,46 Triliun
Selain itu, pemeriksaan berkala juga dilakukan terhadap penyimpanan bahan makanan, baik segar maupun kering, guna memastikan tidak ada bahan yang rusak atau tidak layak konsumsi.
Dalam kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi, menjaga kualitas makanan menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, suhu makanan saat distribusi menjadi perhatian penting.
“Makanan harus berada pada suhu 60–70 derajat Celsius saat didistribusikan ke hotel agar tetap higienis dan tidak mudah basi,” jelas Nova.
Ia juga mengimbau jemaah untuk segera mengonsumsi makanan setelah diterima. Penundaan makan berpotensi menurunkan kualitas makanan, terutama jika terlalu lama disimpan meski dalam kondisi tertutup.
Selain aspek keamanan pangan, kandungan gizi juga menjadi fokus utama. Asupan protein, karbohidrat, dan serat disusun secara seimbang untuk menjaga kondisi fisik jemaah.
Sumber protein disediakan dari daging sapi, ayam, ikan, telur, dan tempe, sementara karbohidrat dari nasi dengan porsi terukur. Kebutuhan vitamin dan serat dipenuhi melalui sayuran serta buah seperti wortel, kentang, apel, pir, dan pisang.
“Kami juga menambahkan menu seperti puding untuk membantu asupan serat jemaah,” tambahnya.
Keterbatasan sayuran hijau di Arab Saudi disiasati dengan pemanfaatan bahan yang tersedia tanpa mengurangi nilai gizi. Bahkan, menu khas Indonesia seperti tempe tetap dihadirkan untuk menjaga selera makan jemaah.
Dengan sistem pengawasan berlapis ini, Kemenhaj berharap jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan kondisi fisik yang prima melalui asupan makanan yang sehat, bergizi, dan higienis.