Senin, 20/04/2026 08:45 WIB
Melbourne, Jurnas.com - Australia dan Jepang resmi menandatangani kontrak pengadaan tiga kapal perang pertama dari total 11 kapal yang akan dikirimkan untuk Angkatan Laut Australia.
Kesepakatan pertahanan bersejarah senilai $7 miliar (sekitar Rp119 triliun) ini menandai semakin dalamnya kerja sama militer antara dua sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik tersebut.
Menteri Pertahanan Australia Richard Marles dan Menteri Pertahanan Jepang Koizumi Shinjiro mengumumkan kesepakatan tersebut di Melbourne pada Sabtu (18/4) dalam upacara penandatanganan pengadaan kapal perang kelas Mogami.
Melalui kesepakatan yang disebut `Memorandum Mogami`, kedua negara berkomitmen untuk mempererat hubungan militer, termasuk melalui kerja sama industri yang lebih erat di bidang pertahanan.
Temui Macron, Prabowo Bahas Kerja Sama Militer Indonesia-Prancis
Komisi I dan Dubes Belanda Bahas MoU Hingga Kerja Sama Militer
TNI Tunda Kerja Sama Militer dengan Australia
Sesuai rencana, Mitsubishi Heavy Industries milik Jepang akan membangun tiga fregat siluman di Prefektur Nagasaki, sementara perusahaan Australia, Austal, akan membangun delapan kapal sisanya di Australia Barat.
Kapal pertama buatan Jepang dijadwalkan akan dikirim pada tahun 2029 dan mulai beroperasi pada tahun 2030, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Richard Marles.
"Armada kapal permukaan kita menjadi jauh lebih penting dibandingkan waktu-waktu sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir," ujar Richard dikutip dari Aljazeera pada Senin (20/4).
"Fregat serbaguna ini akan membantu mengamankan rute perdagangan maritim dan pendekatan wilayah utara kita sebagai bagian dari armada tempur permukaan yang lebih besar dan lebih mematikan," dia menambahkan.
Menteri Shinjiro menambahkan bahwa koordinasi pertahanan yang lebih erat menjadi krusial karena Australia dan Jepang menghadapi lingkungan keamanan yang semakin parah.
Australia sebelumnya telah berkomitmen untuk menggelontorkan belanja militer rekor sebesar US$305 miliar selama satu dekade ke depan sebagai bagian dari perombakan pertahanan besar-besaran guna meningkatkan kekuatan angkatan laut ke level yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II.
Peningkatan kerja sama militer ini terjadi di tengah kekhawatiran bersama terhadap pergeseran keamanan regional, khususnya terkait meningkatnya pengaruh China. Selain hubungan bilateral yang semakin kuat, Tokyo dan Canberra juga merupakan anggota blok keamanan Quad yang dipimpin oleh AS.