Kamis, 16/04/2026 13:55 WIB
Brussels, Jurnas.com - Uni Eropa (UE) tengah menyusun rencana darurat untuk mengatasi ancaman kelangkaan bahan bakar jet (avtur) serta memaksimalkan output kilang minyak di wilayahnya.
Langkah ini diambil setelah maskapai penerbangan Eropa memperingatkan adanya risiko gangguan perjalanan menjelang musim panas akibat perang yang melibatkan Iran.
Ketergantungan Eropa terhadap impor avtur sangat tinggi. Sekitar 75 persen pasokan berasal dari Timur Tengah. Berdasarkan draf proposal yang dikutip dari Reuters pada Kamis (16/4), Komisi Eropa akan mulai memetakan kapasitas kilang minyak di seluruh blok tersebut mulai Mei mendatang.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan seluruh kapasitas kilang yang ada dimanfaatkan secara penuh dan dipelihara dengan baik.
Iran Tawarkan Pembukaan Jalur Alternatif di Selat Hormuz, Ini Syaratnya
Panglima Militer Pakistan Tiba di Iran Bawa Pesan Rahasia dari AS
Australia Amankan Pasokan 100 Juta Liter Diesel dari Brunei dan Korsel
Meski demikian, rincian mengenai tindakan spesifik untuk mengamankan pasokan avtur masih dalam tahap pengembangan. Komisi Eropa sendiri menolak berkomentar lebih lanjut mengenai rencana yang dijadwalkan terbit pada 22 April tersebut.
Krisis ini dipicu oleh lonjakan harga avtur sejak pemblokiran Selat Hormuz. Sejumlah maskapai penerbangan mulai memperingatkan adanya potensi kenaikan harga tiket, pembatalan jadwal terbang, hingga penghentian operasional pesawat jika perang tidak segera berakhir.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal optimis dalam pernyataannya pada 15 April, yang menyebut bahwa perang dengan Iran bisa segera usai. Meski demikian, pasukan AS masih terus memberlakukan blokade ketat terhadap kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan Iran.
Badan Energi Internasional (IEA) memprediksi kelangkaan avtur akan menghantam Eropa pada Juni mendatang jika kawasan tersebut hanya mampu mengganti separuh dari pasokan rutin asal Timur Tengah.
Analis menilai impor tambahan dari Afrika dan AS tidak akan cukup untuk menutupi defisit tersebut. Situasi diperparah dengan kondisi banyak bandara di Eropa yang tidak memiliki stok cadangan dalam jumlah besar.
Grazia Vittadini, Chief Technology Officer Lufthansa, mengungkapkan bahwa ketidakpastian ini telah mengubah pola kerja sama dengan pemasok. "Pemasok kami mengubah jendela perkiraan mereka, dan mereka tidak lagi bersedia memberikan prospek untuk jangka waktu lebih dari satu bulan," ujar dia kepada Reuters di Frankfurt.
Kondisi ketahanan energi di Eropa sendiri sangat bervariasi. Spanyol, yang memiliki delapan kilang, masih menjadi eksportir neto avtur. Sebaliknya, Inggris sangat rentan karena lebih dari 60 persen kebutuhan domestiknya bergantung pada impor.
Menanggapi situasi ini, maskapai penerbangan Eropa mendesak UE untuk meningkatkan pemantauan pasokan dan mempertimbangkan skema pembelian kerosin secara bersama.
Saat ini, meskipun UE mewajibkan anggotanya menyimpan cadangan minyak darurat untuk 90 hari, belum ada aturan spesifik yang mewajibkan stok cadangan khusus untuk bahan bakar jet.