Kualitas Sperma Capai Puncak di Musim Panas, Benarkah Pengaruhi Kesuburan?

Rabu, 15/04/2026 15:05 WIB

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru menemukan bahwa kualitas sperma manusia ternyata mengikuti pola musiman. Hasil penelitian menunjukkan, kualitas sperma berada pada titik tertinggi saat musim panas dan menurun di musim dingin.

Penelitian yang dipublikasikan pada 21 Februari di jurnal Reproductive Biology and Endocrinology ini menganalisis lebih dari 15.000 sampel semen dari donor sperma di Denmark dan Amerika Serikat, khususnya negara bagian Florida.

Dikutip dari Live Science, para peneliti menemukan pola yang konsisten di kedua wilayah tersebut. Jumlah sperma dengan motilitas progresif, yakni kemampuan sperma untuk berenang lurus dan efisien, tertinggi terjadi pada bulan Juni dan Juli.

Sementara itu, titik terendahnya tercatat pada Desember dan Januari. Melihat pola tersebut, peneliti pun mengajukan hipotesis menarik.

“Kami bertanya-tanya apakah pria memiliki peluang lebih besar untuk diterima sebagai donor sperma jika mendaftar pada musim panas,” kata Allan Pacey, profesor andrologi dari University of Manchester.

Ia menambahkan, “Secara tidak langsung, ini mungkin juga berarti pasangan di Denmark dan Florida yang ingin memiliki anak bisa memiliki peluang lebih baik pada musim panas. Namun, itu masih sebatas teori.”

Meski demikian, tidak semua ahli sepakat bahwa perbedaan musiman ini berdampak nyata pada kesuburan. Dr. Sherman Silber, seorang ahli urologi yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai perbedaan tersebut sangat kecil.

“Perbedaan yang dilaporkan dalam studi ini sangat, sangat kecil dan tidak memberikan perbedaan biologis apa pun,” ujarnya.

Untuk memahami penyebabnya, peneliti menganalisis data dari 15.581 pria berusia 18 hingga 45 tahun yang mendaftar sebagai donor sperma antara 2018 hingga 2024. Sampel dikumpulkan dari beberapa kota di Denmark dan Orlando, Florida.

Mereka juga meneliti apakah suhu lingkungan memengaruhi kualitas sperma, mengingat sperma membutuhkan sekitar 74 hari untuk berkembang di dalam tubuh.

Namun hasilnya menunjukkan bahwa suhu, baik saat ejakulasi maupun beberapa minggu sebelumnya, tidak memiliki hubungan signifikan dengan kualitas sperma.

Sebaliknya, peneliti menduga faktor gaya hidup justru lebih berperan.

“Fakta bahwa pola musiman tetap ada meskipun kami telah memperhitungkan suhu lingkungan membuat kami berpikir bahwa perubahan gaya hidup lain mungkin berpengaruh,” kata Pacey.

“Ini bisa mencakup pola makan, olahraga, atau paparan sinar matahari. Namun kami tidak mengukur hal-hal tersebut, sehingga masih sebatas spekulasi.”

Ada pula teori lain yang menyebut pola ini sebagai sisa adaptasi evolusi. Pada banyak hewan di wilayah beriklim sedang, reproduksi diatur agar kelahiran terjadi di musim semi—saat kondisi lingkungan lebih mendukung.

Jika kualitas sperma mencapai puncak di musim panas, maka peluang kelahiran di musim semi menjadi lebih besar. Namun pada manusia modern, efek ini kemungkinan sudah jauh berkurang.

Menariknya, tidak semua penelitian menemukan pola yang sama. Beberapa studi sebelumnya, termasuk dari Italia, juga menunjukkan puncak kualitas sperma di musim panas.

Namun penelitian lain di China justru menemukan puncak terjadi di akhir musim dingin dan menurun saat musim panas. Perbedaan ini diduga dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan gaya hidup di masing-masing wilayah.

Selain faktor musim, penelitian ini juga menemukan bahwa kualitas sperma tertinggi terjadi pada pria berusia 30-an tahun. Sementara itu, kualitas cenderung lebih rendah pada pria di bawah 25 tahun dan di atas 40 tahun.

Peneliti juga mencatat adanya penurunan kualitas sperma di Denmark antara 2019 hingga 2022, yang kemudian meningkat kembali pada 2023. Kondisi ini diduga berkaitan dengan perubahan gaya hidup selama pandemi COVID-19, seperti pola kerja, aktivitas fisik, dan pola makan.

Sebaliknya, di Orlando, kualitas sperma justru meningkat secara bertahap dari 2018 hingga 2024, meski penyebabnya masih belum diketahui.

Dengan demikian, temuan ini membuka wawasan baru tentang bagaimana faktor musiman dapat memengaruhi tubuh manusia secara halus. Meski dampaknya terhadap kesuburan belum pasti, penelitian ini menegaskan bahwa kualitas sperma tidak sepenuhnya statis.

Namun para ahli mengingatkan, hasil ini masih bersifat observasional dan belum bisa dijadikan dasar medis langsung. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan apakah pola musiman ini benar-benar berpengaruh terhadap peluang kehamilan di dunia nyata. (*)

TERKINI
Tanda Tubuhmu Perlu Detoks Media Sosial, Baik untuk Mental Vidic Nilai Carrick Sosok yang Tepat Tangani Manchester United Kualitas Sperma Capai Puncak di Musim Panas, Benarkah Pengaruhi Kesuburan? Kemenhut Diminta Turun Tangan Atasi Penambangan Liar di Banten