Rabu, 15/04/2026 09:56 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Sebuah studi terbaru dari University of Michigan mengungkap bahwa emisi gas metana di kota-kota besar dunia meningkat lebih cepat dibandingkan yang tercatat dalam data resmi.
Temuan ini menyoroti tantangan serius bagi kota-kota yang berupaya menekan emisi gas rumah kaca, terutama karena metana merupakan gas yang sangat kuat dalam memerangkap panas di atmosfer.
Dikutip dai Earth, penelitian tersebut menggunakan data satelit untuk memantau konsentrasi metana di 92 kota besar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 72 kota memiliki data yang cukup untuk dianalisis selama periode 2019 hingga 2023.
Hasilnya menunjukkan bahwa pada 2023, emisi metana perkotaan sekitar 6% lebih tinggi dibandingkan 2019, dan 10% lebih tinggi dibandingkan 2020. Menariknya, Eropa menjadi salah satu wilayah yang menunjukkan tren penurunan emisi.
Hari Ini Mayoritas Wilayah Diprediksi Berawan
Mayoritas Kota Besar Diguyur Hujan Disertai Kilat-Angin Hari Ini
BMKG Deteksi Awan Hujan di Sejumlah Kota Besar Indonesia
Namun, angka ini tidak sejalan dengan inventarisasi emisi berbasis metode “bottom-up”, yaitu pendekatan yang menghitung total emisi berdasarkan sumber-sumber yang diketahui seperti kebocoran pipa gas, tempat pembuangan akhir, dan instalasi pengolahan air limbah. Metode ini hanya memperkirakan kenaikan emisi sekitar 1,7% hingga 3,7% sejak 2020, jauh lebih rendah dibandingkan hasil pengamatan satelit.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan memanfaatkan instrumen TROPOMI yang berada di satelit Copernicus Sentinel-5P. Instrumen ini mengukur cahaya matahari yang dipantulkan dari Bumi dan menganalisis panjang gelombangnya untuk mengidentifikasi keberadaan gas seperti metana.
Keunggulan utama TROPOMI adalah kemampuannya melakukan pemantauan global secara konsisten, berbeda dengan pengukuran berbasis pesawat yang hanya bersifat sesekali. Meski demikian, resolusinya belum cukup tinggi untuk mengidentifikasi sumber emisi secara spesifik di dalam kota.
Temuan ini menjadi perhatian serius bagi kota-kota yang tergabung dalam jaringan C40 Cities Climate Leadership Group—sebuah kelompok yang beranggotakan 97 kota besar dengan komitmen mencapai emisi nol bersih pada 2050.
Dalam kota-kota C40 yang dianalisis, emisi metana pada 2023 tercatat sekitar 10% lebih tinggi dibandingkan 2020. Kenaikan ini setara dengan sekitar dua teragram metana per tahun yang tidak diperhitungkan dalam target resmi. Bahkan, jumlah tersebut setara dengan sekitar 30% dari target pengurangan emisi metana kota-kota tersebut.
Menurut peneliti, ketidaksesuaian ini dapat membuat kota-kota tampak berhasil di atas kertas, padahal sebenarnya masih tertinggal dalam upaya pengurangan emisi.
Metana dikenal sulit diukur secara akurat karena sifatnya yang mudah bocor dan tidak stabil. Tidak seperti emisi dari cerobong asap industri yang dapat dipantau secara langsung, kebocoran metana sering kali bersifat sporadis dan tersebar.
Metode “bottom-up” juga memiliki keterbatasan karena bergantung pada faktor emisi standar yang belum tentu mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Infrastruktur yang rusak, seperti pipa gas bocor atau sistem pengelolaan limbah yang bermasalah, dapat menyebabkan lonjakan emisi yang tidak tercatat.
Studi ini juga menemukan bahwa emisi metana dari kawasan perkotaan menyumbang sekitar 10% dari total emisi metana akibat aktivitas manusia pada 2023. Bahkan, total emisi dari kota-kota ini hampir empat kali lebih besar dibandingkan sumber “ultra-emitter” di sektor minyak dan gas yang selama ini menjadi fokus utama perhatian global.
Para peneliti menekankan pentingnya pendekatan berlapis dalam pemantauan emisi metana. Kombinasi antara pemantauan global menggunakan satelit seperti TROPOMI dan teknologi satelit resolusi tinggi di masa depan dinilai dapat membantu mengidentifikasi sumber emisi secara lebih spesifik.
Dengan data yang lebih akurat, kota-kota dapat mengambil langkah konkret seperti memperbaiki infrastruktur gas, meningkatkan pengelolaan limbah, dan memperketat regulasi lingkungan.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences, dan menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan iklim sangat bergantung pada akurasi data. Tanpa pengukuran yang tepat, upaya pengurangan emisi berisiko tidak mencapai hasil yang diharapkan. (*)
Keyword : Emisi MetanaKota BesarGas Metana