Senin, 13/04/2026 18:11 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Kepercayaan tentang manfaat sisik trenggiling masih bertahan di berbagai masyarakat, terutama dalam praktik pengobatan tradisional. Namun di balik popularitasnya, fakta ilmiah menunjukkan cerita yang berbeda dan perlu diluruskan.
Trenggiling, khususnya spesies Manis javanica, merupakan mamalia unik yang tubuhnya dilapisi sisik keras. Sisik tersebut tersusun dari keratin, yaitu protein yang juga ditemukan pada kuku dan rambut manusia.
Dalam praktik tradisional, sisik trenggiling kerap diyakini memiliki berbagai khasiat kesehatan. Mulai dari meningkatkan produksi ASI, meredakan peradangan, hingga dianggap mampu mengatasi penyakit serius seperti kanker.
Namun demikian, klaim tersebut sebagian besar tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Hingga saat ini, belum ada penelitian medis yang membuktikan efektivitas sisik trenggiling sebagai obat.
Kemenhut Tahan WNA Vietnam Terkait Penyelundupan 796 Kg Sisik Trenggiling
Fakta atau Mitos Kerokan Dapat Redakan Masuk Angin
Malaysia Sita Gading Gajah dan Sisik Trenggiling
Secara ilmiah, kandungan utama sisik trenggiling hanyalah keratin yang tidak memiliki sifat farmakologis signifikan. Artinya, tidak ada bukti bahwa zat tersebut mampu memberikan efek penyembuhan seperti yang selama ini dipercaya.
Bahkan, klaim yang menyebut sisik trenggiling mengandung senyawa pereda nyeri seperti Tramadol HCl juga tidak terbukti secara ilmiah. Sejumlah otoritas kesehatan telah menghapus bahan ini dari daftar pengobatan tradisional karena minimnya bukti efektivitas dan keamanan.
Di sisi lain, permintaan terhadap sisik trenggiling justru berdampak serius terhadap kelestarian satwa ini. Trenggiling kini menjadi salah satu hewan yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia.
Akibat perburuan masif, seluruh spesies trenggiling masuk dalam kategori terancam punah dan dilindungi secara hukum internasional. Perdagangan maupun konsumsi sisiknya, termasuk di Indonesia, merupakan tindakan ilegal dengan konsekuensi hukum yang berat.
Selain persoalan hukum, penggunaan sisik trenggiling juga menyimpan risiko kesehatan. Produk ilegal berpotensi terkontaminasi karena tidak melalui standar pengawasan yang jelas, sehingga dapat membahayakan konsumen.
Lebih jauh, penggunaan bahan ini juga menimbulkan persoalan etika karena mendorong perburuan liar dan mempercepat kepunahan spesies. Hal ini menjadikan isu sisik trenggiling bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga tanggung jawab lingkungan.
Dengan demikian, penting bagi masyarakat untuk membedakan antara mitos dan fakta terkait manfaat sisik trenggiling. Alih-alih memberikan manfaat medis, penggunaannya justru berisiko secara kesehatan, hukum, dan lingkungan.
Kesadaran berbasis sains menjadi kunci untuk menghentikan praktik yang tidak terbukti ini. Di saat yang sama, perlindungan terhadap trenggiling perlu diperkuat agar satwa langka ini tidak hilang dari ekosistem. (*)
Sumber: Halodoc